Minggu, 06 Mei 2012

Fisiologi Hewan ; Darah dan Komposisi Darah



BAB I
PENDAHULUAN


I.1 Latar Belakang
Berdasarkan kehidupan kita selama ini, kita dapat melihat bahwa fenomena  begitu banyak di sekitar kita, tidak hanya dari material yang besar, namun hingga material kecil yang menjadi bagian dari penyusun tubuh juga banyak memiliki perbedaan masing-masing dari tiap individu.
Salah satu penyusun tubuh yang tentu memiliki nilai yang begitu penting yakni darah. Darah merupakan fluida (cairan) yang beredar (bersirkulasi) dalam tubuh yang berfungsi untuk mengangkut gas, nutrien dan bahan sisa metabolisme lainnya. Di dalam tubuh kita darah memiliki peran yang sangat mempengaruhi kerja atau aktivitas dari organ-organ tubuh yang lain, misalnya saja organ pernapasan yang nantinya oksigen yang diikat oleh hemoglobin akan di bawa dengan aliran darah.
Untuk mengetahui lebih banyak tentang darah, maka dibuatlah makalah ini agar sekiranya dapat membantu para para pembaca dalam memahami tentang darah dan komposisinya.
I.2 Rumusan Masalah
1.      Jelaskan  komposisi penyusun darah ?
2.      Bagaimana kerja darah dalam tubuh ?
I.3 Tujuan Makalah
            Adapun tujuan dari penulisan makalah darah dan komposisinya ini untuk membantu para pembaca dalam mendalami ilmu mengenai darah pada khususnya


BAB II
ISI

Darah
Secara umum istilah darah dipakai untuk menjelaskan fluida (cairan) yang beredar (bersirkulasi) dalam tubuh yang berfungsi untuk mengangkut gas, nutrien dan bahan sisa metabolisme lainnya. Pada vertebrata dara beredar dalam pembuluh darah, karena itu peredarannya disebut peredaran darah tertutup. Sedangkan peredaran darah terbuka seperti yang dimiliki oleh insekta.
Darah mengandung dua komponen utama, yakni :
A.    Plasma darah
Plasma darah terdiri atas 92 %, protein plasma 7 % dan zat terlarut lainnya sekitar 1 %.
B.     Elemen-elemen seluler
Terdiri atas sel darah merah (eritrosit) hampir 99,9% dan sisanya adalah sel darah putih (leukosit) dan keping-keping darah (trombosit). Protein plasma antara lain terdiri atas enzim, proenzim, hormon yang jumlahnya kurang dari 1 % sedangkan zat-zat yang terlarut lainnya adalah :
1.      Elektrolit-elektrolit yang penting untuk aktivitas sel itu sendiri dan menjaga tekanan osmosis cairan tubuh (Na, K, Ca, Mg, Cl, HCO3).
2.      Nutrient organik yang penting untuk menghasilkan energi ATP, untuk pertumbuhan dan pemeliharaan sel-sel, yang antara lain terdiri atas asam lemak, kolestrol, karbohidrat (glukosa) dan protein (asam-asam amino).
3.      Bahan organik sisa metabolisme seperti urea, asam urat, kreatinin, biliburin dan amonia. Elemen seluler yang disebut leukosit terdiri  atas : neutrofil 50-70%, eosinofil 2-4%, basofil <1%, limfosit 20-30% dan monosit 2-8%.
Adapun fungsi secara umum dari darah yaitu :
1.      Alat transportasi yang berkaitan dengan nutrisi, respirasi, ekskresi dan regulasi
2.      Mengatur keseimbangan antara darah dengan cairan jaringan (osmoregulasi)
3.      Mengatur keseimbangan asam-basa cairan tubuh
4.      Mengatur suhu tubuh (termoregulasi)
5.      Sebagai alat pertahanan tubuh dengan adanya antibodi
6.      Mencegah pendarahan yang terus menerus dengan adnaya trombosit.

Viskositas darah
Viskositas darah akan mempengaruhi kecepatan laju endapan darah. Darah mempunyai viskositas lebih besar dari air karena adanya elemen-elemen seluler terutama eritrosit dan adanya protein-protein plasma seperti albumin, globulin serta fibrinogen.
Viskositas darah sekitar 3-5 kali harga viskositas air (viskositas air = 1,0) dengan pH antara 7,35-7,45. Pada suhu normal sekitar 37-37,5ÂșC. Tingginya viskositas darah ini karena adanya interaksi antara protein-protein yang terlarut yang membentuk elemen yang mengelilingi molekul air. Dalam keadaan normal viskositas darah akan stabil, namun pada keadaan anemia atau infeksi lainnya yang dapat mempengaruhi hematokrit (besarnya jumlah sel darah merah dalam % dalam volume darah tertentu). Juga akan mempengaruhi viskositas dan tekanan darah perifer.
Helimosa adalah peristiwa keluarnya hemoglobin dari eritrosit ke cairan di sekelilingnya. Ada 2 macam hemolisa yaitu :
a.       Hemolisa osmotik, yang terjadi karena adanya perbedaan besarnya tekanan osmosis antara eritrosit dengan cairan di sekelilingnya. Bila tekanan osmosis dalam darah lebih besar daripada tekanan osmosis medium sekitarnya (larutan hipotonis), maka akan terjadi osmosis dari luar ke dalam eritrosit dan pada dinding eritrosit tidak mampu lagi menahan tekanan osmosis yang semakin besar membran eritrosit akan pecah.
b.      Hemolisa kimiawi, yang terjadi karena membran eritrosit dirusak oleh substansi  yang lain, seperti kloroform, aseton, alkohol, benzen, nitrobenzen, eter dan resin.

Krenasi
Krenasi adalah peristiwa mengkerutnya dinding eritrosit karena air yang berada di dalam eritrosit ke luar menuju medium sekelilingnya. Hal ini terjadi bila medium di sekeliling eritrosit mempunyai harga tekanan osmotik yang lebih (hipertonis) dibandingkan dengan cairan dalam eritrosit sendiri, akibatnya terjadi osmosis dari dalam eritrosit menuju ke luar medium sekelilingnya.

            Fragilitas
Fragilitas atau kerapuhan eritrosit, merupakan gambaran kemampuan membran dalam menahan bertambhanya tekanan osmosis dalam sel akibat masuknya air dari medium. Pada keadaan normal eritrosit baru akan mengalami hemolisa bila mediumnya mempunyai tekanan osmosis yang sama dengan konsentrasi larutan NaCl 0.4%. bila suatu eritrosit ternyata telah mengalami hemolisa pada saat berada dalam larutan NaCl dengan konsentrasi masih di atas 0,4%. Hal ini menunjukkan bahwa eritrosit tersebut lebih fragil atau lebih lebih rapuh daripada yang normal. Hal ini dapat saja terjadi bila sel-sel darah merupakan sel-sel darah yang masih muda atau karena terjadi infeksi.

Laju Endapan Darah
Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kecepatan laju endapan darah antara lain yaitu : massa jenis darah, viskositas, besar eristrosit, bentuk eritrosit, suhu pengukuran, jumlah eritrosit, rasio antara lecitin dengan kolestrol dan kecenderungan pembentukan rouleaux (penumpukan eritrosit seperti pilar).

Koagulasi
Koagulasi atau pembekuan darah adalah perubahan fibrinogen (protein yang larut) menjadi fibrin (protein yang tidak larut). Perubahan fibrinogen menjadi fibrin dipengaruhi oleh enzim yang disebut trombin. Dalam darah trombin terdapat dalam bentuk prekursornya (pra zat) yang disebut protrombin yang tidak aktif.

Hematokrit
Hematokrit (VPRC = Volume of Packed Red Cell) yaitu jumlah persen sel darah merah dari sejumlah darah. Pengertian dari hematokrit 40 (40%) berarti bahwa darah terdiri atas 40% sel darah merah dan 60% plasma. Nilai normal hematokrit tergantung dari jenis kelamin. Untuk pria nilai hematokrit ± 47 sedangkan wanita ± 45.
Cara Menentukan Hematokrit
            Sejumlah darah dimasukkan dalam tabung mikrohematokrit yang sudah diberi antikoagulan (heparinized). Selanjutnya tabung-tabung yang sudah diisi darah siletakkan pada meja mikrohemasitometer. Putar pada kecepatan 10.000 permenit selama 5 menit, maka sel-sel darah akan mengendap dengan cairan plasma yang ada di atasnya. Letakkan pada papan skala dan atur posisi kedua ujung tabung agar sesuai dengan skala yang ada. Maka dari skala yang terbaca dapat diketahui besarnya hematokrit. Perlu diketahui bahwa hematokrit tidak merata di seluruh tubuh, darah vena mempunyai kandungan hematokrit lebih besar dari darah arteri.

Hemoglobin
Sebagai pigmen respirasi, hemoglobin merupakan protein konyugasi dengan berat molekul 68.000. hemoglobin terdiri atas protein globin yang berkombinasi degan heme, dimana heme, merupakan porfirin tertentu (porifirin tipe III atau protoporifin) yang mengandung Fe. Porifirin III sendiri terdiri atas 4 molekul pirol yang dihubungkan satu sama lain oleh jembatan metilen (=CH-).
Pembentukan Hemoglobin
Sintesis hemoglobin baru dimulai pada saat sel darah pada tingkat eritroblast dan dilanjutkan sampai tingkat normoblast, meskipun kadang-kadang dilanjutkan sampai sel darah muda dilepaskan dari sum-sum tulang ke dalam peredaran darah. Tahapan sintesis hemoglobin dapat ditulis sebagai berikut :
1.      2 asam ketoglutarat + glisin              pirol
2.      4 pirol               protoporifin III
3.      protoporifin III + Fe            heme
4.      4 heme ­+ globin             hemoglobin
Selain Fe dan asam amino yang secara lansung dibutuhkan untuk pembentukan hemoglobinterdapat bebrapa substansi yang berperan sebagai enzim yang terlihat selama tahapan pembentukan hemoglobin. Substansi tersebut antara lain Cu untuk kelancaran pembentukan hemoglobin, piridoksin, yang dimana kekurangan zat ini dapat menyebabkan pembentukan sel darah merah menurun dan pembentukan hemoglobin tertekan.
Hemoglobin merupakan pigmen respirasi untuk mengikat oksigen :
Reaksi : Hb + O2                  HbO2
-   setiap molekul Hb mempunyai 4 gugus heme
-   setiap gugus heme dapat berkombinasi dengan 1 molekul O2
-   jumlah O2 yang dapat diikat oleh Hb, tergantung pada besarnya tekanan partial O2 dalam darah
-   bila semua gugus heme dari hemoglobin berikatan dengan O, maka darah dapat dikatakan 100% jenuh            kapasitas O2
-   Kondisinya 100% jenuh.
Kapasitas O2 (Ks O2) = jumlah O2 yang diikat oleh Hb dalam 100 ml darah ynag kondisinya 100% jenuh. (1 gram Hb dapat mengikat 1,34 ml O2           ).
Afisitas Hb terhadap O2 dipengaruhi oleh faktor :
1.      Tekanan partial CO2
2.      Suhu tubuh
3.      pH darah
4.      kadar 2,3 fosfogliserat dalam darah.
Kandungan total O2 dalam darah = kandungan O2 yang terlarut dalam plasma + kandungan O2 yang terlarut dalam Hb

Derivat hemoglobin
Beberapa variasi ikatan hemoglobin dengan substansi lain yaitu :
1.      hemoglobin tereduksi, disebut juga ferohemoglobin, yaitu merupakan molekul yang telah melepaskan oksigennya. Hemoglobin tereduksi ditulis dengan simbol Hb (globin) atau (globin) (Por:Fe++)
2.      methemoglobin, yang diperoleh apabila oksihemoglobin atau hemoglobin tereduksi dioksidasi dengan Fe(CN)3. Methemoglobin disebut juga dengan ferihemoglobi dan ditulis dengan simbol Met.Hb atau (globin) (Por:Fe+++)
3.      karboksihemoglobin, yakni ikatan antara Hb dengan gas karbonmonoksida (CO), biasanya diberi simb HbCO atau (globin) (Por:Fe++)CO. Afinitas Hb terhadap CO adalah 200-250 kali lebih besar daripada afinitas Hb dengan O2. Oleh karena itu gas CO sangat berbahaya bila terhirup dalam jumlah yang besar.
4.      Sianmethemoglobin, merupakan ikatan antara CN dengan methemoglobin atau hemoglobin atau dengan hemoglobin tereduksi dan  yang diberi simbol Met.Hb.CN atau (globin) (Por:Fe+++)CN.
5.      Sulfhemoglobin, yaitu yang terbentuk bila forehemoglobin dicampur dengan gas H2S, sehingga hemoglobin mengalami putrefaksi.

Jumlah Sel Darah Merah
Jumlah sel darah merah dalam hal ini adalh banyaknya sel darah merah yang terdapat dalam 1 mm3 darah. Pada pria jumlah sel darah merahnya adalah 5 juta per mm3, sedangkan pada wanita 4,5 juta per mm3. Untuk menghitung jumlah sel darah merah digunakan Hemositometer, dengan larutan pengencer Hayem (Hayem’s solution) yang terdiri atas : 1. NaCl (1 gram) : 2. Na2SO4 (5 gram) : 3. HgCl2 (0,5 gram) : 4. Aquadest (200 ml).  Standard Normal Darah. Dengan mengetahui jumlah sel darah merah, harga hematokrit dan kadar hemoglobin, maka kita dapat menghitung beberapa parameter berikut :
1.      Volume rata-rata sel darah merah (MVC = Mean Corpuscular Volume)
MVC = Volume of Packed Red Cell (ml/liter darah)
                  Jumlah Sel Darah Merah (juta/ mm3)
2.      Jumlah hemoglobin rata-rata setiap sel darah merah
(Mean Corpuscle Hemoglobin = MCH)
MCH = Jumlah hemoglobin (Hb gram/liter darah)
             Jumlah Sel Darah Merah (juta/ mm3)
3.      Jumlah hemoglobin rata-rata per unit volume sel darah merah
(MCHC = Mean Corpuscular Hemoglobine Concentration percent)
MCHC = Jumlah Hb (gram per 100 ml darah) X 100%
                  Volume of Packed Red Cell / 100 ml darah

BAB III
PENUTUP

III.1 Kesimpulan
            Berdasarkan penjelasan yang ada maka dapat disimpulkan bahwa :
1.      Darah adalah cairan yang terdapat pada semua makhluk hidup tingkat tinggi yang berfungsi mengirimkan zat-zat dan oksigen yang dibutuhkan oleh jaringan tubuh, mengangkut bahan-bahan kimia hasil metabolisme, dan juga sebagai pertahanan tubuh terhadap virus atau bakteri.
2.    Susunan  darah terdiri atas dua bagian yakni cairan yang disebut plasma darah dan elemen seluler yaitu sel darah merah, sel darah putih dan keping darah.
III.2 Saran
            Sebaiknya dalam membuat makalah tentang komponen atau substansi darah diperlukan lebih banyak referensi, agar sekiranya isi makalah dapat lebih lengkap dalam menambah pengetahuan pembaca.
  
DAFTAR PUSTAKA



Suripto. 2006. Fisiologi Hewan. Penerbit ITB. Bandung
Wulangi S. Kartolo. 1993. Prinsip-Prinsip Fisiologi Hewan. Bandung: ITB

TUGAS KELOMPOK
FISIOLOGI HEWAN

DARAH
DAN
 KOMPOSISINYA

Oleh :
Kelompok VIII
1.  Robin Elni Rusadi        H411 10 005
2.   Anwar                          H411 10 102                     
3.  Mujahidah                    H411 06 045
4.  A. Adriani Idris             H411 10 253
5.  RR. Dyah Roro A.W    H411 10 907
6.  Asriyanti                        H411 10 262
7.  Anugrahwati Abidin    H411 10 281
8.  Nurlina Salma               H411 10 908
Logo Unhas.bmp







FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2011


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar