Minggu, 06 Mei 2012

SPT 2 ; Perc.3 Perkembangan Kecambah dalam Gelap dan Terang


BAB I
PENDAHULUAN

Perkembangan merupakan suatu perubahan yang teratur dan berkembang umumnya menuju keadaan yang lebih tinggi, lebih teratur dan lebih kompleks. Perkembangan dikenal juga dengan morfogenesis. Perkembangan meliputi proses tumbuh dan diferensiasi. Selain dengan mengukur volume parameter lain dalam mengukur pertumbuhan adalah dengan mengukur berat basah dan berat kering tumbuhan (Anonim, 2011).
Pertumbuhan adalah suatu pertambahan dalam ukuran pertambahan dalam ukuran yang bersifat irreversible. Karena bersifat multi sel maka pertumbuhan bukan saja dalam voume tetapi juga pertambahan dalam hal bobot, jumlah sel, banyaknya protoplasma, dan tingkat kerumitan. Proses pertumbuhan sebagian besar terjadi dalam fase pembelahan dan pendewasaan sel. Umumya daerah pertumbuhan terletak pada bagian bawah mesitem apikal dari tunas akar. Pada rerumputan dan monokotil lainnya daerah pertumbuhan terletak di bagian atas tiap-tiap buku atau nodus. Pertumbuhan juga terjadi pada bagian-bagian lainnya misalnya pada daun sel-sel akan membesar pada batas tertentu. Pertumbuhan lateral terjadi dengan membesarnya sel-sel yang terletak pada sisi-sisi jaringan kambium (Dwidjoseputro, 1992).
Untuk tanaman yang diletakkan di tempat yang gelap pertumbuhan tanamannya sangat cepat selain itu tekstur dari batangnya sangat lemah dan cenderung warnanya pucat kekuningan. Hal ini disebabkan karena kerja hormon auksin tidak dihambat oleh sinar matahari. Sedangkan untuk tanaman yang diletakkan di tempat yang terang tingkat pertumbuhannya sedikit lebih lambat dibandingkan dengan tanaman yang diletakkan di tempat gelap, tetapi tekstur batangnya sangat kuat dan juga warnanya segar kehijauan. Hal ini disebabkan karena kerja hormon auksin dihambat oleh sinar matahari (Anonim, 2011).
Percobaan ini diadakan agar kita dapat melihat bahwa cahaya secara langsung maupun tidak langsung dapat memberikan pengaruh dalam perkembangan perkecambahan itu sendiri.
I.2 Tujuan percobaan
Tujuan diadakannya percobaan ini adalah untuk mempelajari pengaruh cahaya terhadap perkembangan kecambah kacang hijau  Phaseolus radiatus  dalam gelap dan terang.
I.3 Waktu dan Tempat
Percobaan ini dilaksanakan pada hari Selasa, tanggal 13 Maret 2011, pukul 14.30 – 17.00 WITA. Dilaksanakan di Laboratorium Biologi Dasar, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Hasanuddin Makassar. Pengamatan  ini dilakukan selama 1 minggu.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Tumbuh tidak saja diatur oleh faktor – faktor lingkungan tetapi juga oleh bahan – bahan kimia yang dihasilkan di dalam tumbuhan. Bahan – bahan kimia itu disebut hormon. Hormon merupakan senyawa organik yang bekerja aktif dalam jumlah yang sedikit sekali, ditransportasikan ke dalam seluruh tubuh tumbuhan dan mempengaruhi pertumbuhan atau proses – proses fisiologis lainnya. Hormon dibentuk di suatu tempat tetapi menunaikan fungsinya di tempat lain. Berbeda dengan enzim, hormon selama proses – proses metabolik, dan harus diperbaharui untuk menjaga kelangsungan pengaruhnya. Pertumbuhan di satu bagian dapat bergantung pada kegiatan selular lainnya. Dengan bantuan hormon, sel – sel tumbuhan dapat diubah dari unit – unit yang bebas menjadi bagian – bagian yang saling berkaitan dalam satu kesatuan organisme (Gardner, dkk., 1991).
Perkecambahan memerlukan suhu yang cocok, banyaknya air yang memadai dan persediaan oksigen yang cukup. Periode dormansi juga merupakan persyaratan bagi perkecambahan banyak biji sebagai contoh, biji buah apel hanya dapat berkecambah setelah masa dingin yang lama. Ada bukti bahawa perkecambahan kimia terbentuk di dalam bijinya ketika terbentuk. Pencegahan ini lambat laun akan dipecah pada suhu rendah sampai tidak lagi memadai untuk menghalangi perkecambahan ketika kondisi lainnya membaik ( Latunra, 2012).
Perkecambahan diawali dengan penyerapan air dari lingkungan air dari lingkungan sekitar biji, baik tanah, udara, maupun media lainnya. Perubahan yang teramati adalah membesarnya ukuran biji yang disebut tahap imbibisi. Biji menyerap air dari lingkungan sekitarnya, baik dari tanah maupun dari udara (dalam bentuk uap air atau embun). Efek yang terjadi membesarnya ukuran biji karena sel-sel embrionya membesar dan biji melunak (Latunra, 2012).
Pertumbuhan bagian pucuk dan akar disebabkan adanya pembentukan sel-sel baru oleh jaringan meristematik (embrionik) pada titik tumbuh diikuti dengan pertumbuhan dan diferensiasi sel-selnya, bila mana tumbuhan mencapai ukuran dewasa maka terbentuk bunga. Pertumbuhan dan perkembangan tanaman merupakan proses yang penting dalam kehidupan dan pekembangbiakan suatu spesies. Pertumbuhan dan perkembangan berlangsung secara terus-menerus sepanjang daur hidup, tergantung pada tersedianya merisitem, hasil asimilasi, hormon dan substansi pertumbuhan lainnya, serta lingkungan yang mendukung  (Salisbury dan Ross, 1995).
Faktor-faktor yang menyebabkan dormansi pada biji dapat dikelompokkan dalam (Anonim, 2011):
(a)  Faktor lingkungan eksternal, seperti cahaya, temperatur dan air;
(b) Faktor internal, seperti kulit biji, kematangan embrio, adanya inhibitor, dan   rendahnya zat perangsang tumbuh;
(c) Faktor waktu, yaitu waktu setelah pematangan, hilangnya inhibitor, dan sintesis zat perangsang tumbuh.
 Dormansi pada biji dapat dipatahkan dengan perlakuan mekanis, cahaya, temperatur, dan bahan kimia. Proses perkecambahan dalam biji dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu proses perkecambahan fisiologis dan proses perkecambahan morfologis. Sedangkan dormansi yang terjadi pada tunas-tunas lateral merupakan pengaruh korelatif dimana ujung batang akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan bagian tumbuhan lainnya yang dikenal dengan dominansi apikal. Derajat dominansi apikal ditentukan oleh umur fisiologis tumbuhan tersebut (Elisa, 2006).
Auksin merupakan hormon terhadap tumbuhan yang mempunyai peranan luas terhadap pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan. Sifat penting auksin adalah berdasarkan konsentrasinya, dapat merangsang dan menghambat pertumbuhan. Auksin berperan penting dalam perubahan dan pemanjangan sel (Anonim, 2011).
Pengaruh auksin terhadap pemanjangan dapat dipelajari dari hasil berdasarkan penelitian pada ujung koleoptil kecambah sejenis gandum Avena sativa. Sebetulnya sudah lama diketahui bahwa ujung koleoptil itu penting untuk pemanjangan koleoptil dan batang bawahnya. Bila ujungnya dipotong, pertumbuhan akan terhambat beberapa jam, dan akan tumbuh lagi apabila ujung batang yang terpotong itu telah memproduksi auksin kembali. Tetapi bila potongan ujung koleoptil itu segera diletakkan kembali di tempatnya dan dilekatkan dengan gelatin yang hangat maka pertumbuhan tidak akan terhenti (Dwidjoseputro, 1992).
Tumbuhan yang pada salah satu sisinya disinari oleh matahari maka pertumbuhannya akan lambat karena jika auksin dihambat oleh matahari tetapi sisi tumbuhan yang tidak disinari oleh cahaya matahari pertumbuhannya sangat cepat karena kerja auksin tidak dihambat. Sehingga hal ini akan menyebabkan ujung tanaman tersebut cenderung mengikuti arah sinar matahari atau yang disebut dengan fototropisme (Anonim, 2011). 
Untuk tanaman yang diletakkan di tempat yang gelap pertumbuhan tanamannya sangat cepat selain itu tekstur dari batangnya sangat lemah dan cenderung warnanya pucat kekuningan. Hal ini disebabkan karena kerja hormon auksin tidak dihambat oleh sinar matahari. Sedangkan untuk tanaman yang diletakkan di tempat yang terang tingkat pertumbuhannya sedikit lebih lambat dibandingkan dengan tanaman yang diletakkan di tempat gelap, tetapi tekstur batangnya sangat kuat dan juga warnanya segar kehijauan, hal ini disebabkan karena kerja hormon auksin dihambat oleh sinar matahari (Anonim, 2011).

BAB III
METODE PERCOBAAN

III. 1 Alat
Alat yang digunakan  dalam  percobaan ini adalah  nampan/wadah, toples dan mistar/penggaris.
III. 2 Bahan
Bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah biji kacang hijau  Phaseolus radiatus, kertas koran, tissue dan air.
III. 3 Cara Kerja
Prosedur kerja dari percobaan ini adalah :
  1. Merendam 60 biji kacang hijau  Phaseolus radiatus  selama beberapa menit di dalam air.
  2. Memilih kacang hijau Phaseolus radiatus  yang tidak mengapung di air yang menandakan kualitasnya baik dan cocok.
  3. Menyiapkan 2 buah nampan yang telah diberi sobekan-sobekan kecil koran di dasarnya. Kemudian membasahi sobekan-sobekan koran tersebut.
  4. Memasukkan masing-masing 10 buah kacang hijau Phaseolus radiatus  pada kedua nampan.
  5. Menempatkan nampan pertama di tempat yang terang dan nampan kedua di tempat yang gelap.
  6. Melakukan pengamatan selama 1 minggu untuk melihat perkembangan tanaman dan  mencatat hasil.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.1  Hasil Pengamatan
IV.1.1  Tabel Pengamatan Pada Tempat Terang
A.    Tabel Panjang Batang
Hari/ Tanggal
Pertambahan panjang batang pada biji ke – (cm)
I
II
III
IV
V
VI
VII
VIII
IX
X
Kamis/
15 Mar 2012
Jumat/
16 Mar 2012
Sabtu/
17 Mar 2012
Minggu/
18 Mar 2012
Senin/
19 Mar 2012
1,6


3,4


4,3


9


13,6
0


0,6


3


6,2


10,5

1,4


3


4,6


10


14,5
1,3


2,1


4,7


6,8


12,5
1,6


3,3


4


10,6


16
1,6


4,1


5,8


8,3


13
1,1


2,4


4


9,4


15,4
1,8


4


4,2


5,3


6
1,4


2,5


3


5,4


11
2


2,7


3,2


8,3


12

B.     Tabel Panjang Daun
Hari/ Tanggal
Pertambahan panjang batang pada biji ke – (cm)
I
II
III
IV
V
VI
VII
VIII
IX
X
Kamis/
15 Mar 2012
Jumat/
16 Mar 2012
Sabtu/
17 Mar 2012
Minggu/
18 Mar 2012
Senin/
19 Mar 2012
0


0


1,4


1,8


2
0


0


0


1,4


1,7

0


0


1,5


2,4


2,7
0


0


0


1,8


2
0


0


1,5


2,3


2,5
0


0


1,1


2,1


2,4
0


0


0,9


2


2,3
0


0


0


1,7


2,8
0


0


0,8


2


2,2
0


0


1,5


2,3


2,5

IV.1.2  Tabel Pengamatan Pada Tempat Gelap
A.    Tabel Panjang Batang
Hari/ Tanggal
Pertambahan panjang batang pada biji ke – (cm)
I
II
III
IV
V
VI
VII
VIII
IX
X
Rabu/
14 Mar 2012
Kamis/
15 Mar 2012
Jumat/
16 Mar 2012
Sabtu/
17 Mar 2012
Minggu/
18 Mar 2012
Senin/
19 Mar 2012
0


1,9


2,3


3,7


-


-
1,7


4,6


4,8


7


-


-

1,2


3,6


4,4


4,8


-


-
0,5


2,9


3,7


4,7


-


-
1,5


4,2


7,9


14


15,4


20,5
1,4


5,5


10,3


13


14,4


20,1
1,5


5,1


5,6


7


-


-
1,5


3


3,3


3,9


-


-
1,3


2,4


2,9


4,2


-


-
1,4


3,8


5,1


6


-


-

B.     Tabel Panjang Daun
Hari/ Tanggal
Pertambahan panjang batang pada biji ke – (cm)
I
II
III
IV
V
VI
VII
VIII
IX
X
Rabu/
14 Mar 2012
Kamis/
15 Mar 2012
Jumat/
16 Mar 2012
Sabtu/
17 Mar 2012
Minggu/
18 Mar 2012
Senin/
19 Mar 2012
0


0


0


0


0


0
0


0


0


0


0


0

0


0


0,4


0,5


0


0
0


0


0


0


0


0
0


0


1,2


1,5


1,9


2
0


0


1,4


1,8


2


2,1
0


0


0


0


0


0
0


0


0,4


0,6


0


0
0


0


0


0


0,4


0
0


0


1,1


1,2


0


0
IV.2   Pembahasan
Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan, memperlihatkan tanda pertumbuhan dan perkembangan biji kacang hijau Phaseolus radiatus. Terlihat bahwa setiap hari terjadi penambahan panjang pada masing-masing kecambah, baik pada tempat terang dan tempat gelap.
Pada pengamatan untuk kecambah yang berada di tempat terang, terlihat bahwa kecambah mengalami pertumbuhan dan perkembangan setiap harinya. Pada pengukuran batang  diketahui bahwa pada kecambah 1 hingga kecambah 10 di hari terakhir memiliki hasil pengukuran yaitu  13,6 cm, 10,5 cm, 14,5 cm, 12,5 cm, 16 cm, 13 cm, 15,4 cm, 6 cm, 11 cm dan 12 cm dengan pertambahan ukuran daun pada hari terakhir untuk kesepuluh kecambah berturut-turut  ialah  2 cm, 1,7 cm, 2,7 cm, 2 cm, 2,5 cm, 2,4 cm, 2,3 cm, 2,8 cm, 2,2 cm dan 2,5 cm.
 Pada pengamatan untuk kecambah yang berada di tempat gelap, terlihat bahwa kecambah mengalami pertumbuhan dan perkembangan setiap harinya. Tetapi pada saat pengamatan 2 hari terakhir, beberapa kecambah dimakan oleh tikus sehingga data selama 2 hari terakhir untuk kecambah ke-1 hingga ke-4 dan kecambah ke-7 hingga ke-10 tidak ada, begitu pula pada pengukuran daun yang mengalami hal yang sama. Pada pengukuran batang  diketahui bahwa pada kecambah 5 dan kecambah 6 di hari terakhir memiliki hasil pengukuran yaitu  20,5 cm dan 20,1 cm dengan pertambahan ukuran daun pada hari terakhir untuk kecambah tersebut berturut-turut  ialah  2 dan 2,1 cm.
Dari hasil pengamatan, terlihat bahwa pada tanaman yang diletakkan ditempat yang gelap pertumbuhan tanamannya sangat cepat selain itu tekstur dari batangnya sangat lemah dan cenderung warnanya pucat kekuningan. Hal ini disebabkan karena kerja hormon auksin tidak dihambat oleh sinar matahari. Sedangkan untuk tanaman yang diletakkan ditempat yang terang tingkat pertumbuhannya sedikit lebih lambat dibandingkan dengan tanaman yang diletakkan ditempat gelap, tetapi tekstur batangnya sangat kuat dan juga warnanya segar kehijauan. Hal ini disebabkan karena kerja hormon auksin dihambat oleh sinar matahari
Menurut teori, adanya penyinaran sinar matahari akan menimbulkan cahaya. Sedang cahaya sangat dibutuhkan untuk membentukan zat warna hijau (chlorophyl), pertumbuhan tanaman dan kualitas daripada produksi. Tanaman yang kurang cahaya matahari pertumbuhannya lemah, pucat dan memanjang. Setiap jenis sayuran menghendaki syarat-syarat yang sangat berlawanan, ada suatu jenis yang menghendaki penyinaran panjang, ada pula yang pendek. Yang dimaksud penyinaran panjang ialah lebih dari 12 jam, sedang penyinaran pendek kurang dari 12 jam.

BAB V
PENUTUP

V.1   Kesimpulan
Berdasarkan hasil percobaan yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa tanaman yang berada di tempat terang tumbuh secara normal dengan ciri-ciri batang pendek dan daun berwarna hijau segar sedangkan tanaman pada tempat gelap mengalami pertumbuhan yang lebih cepat dibandingkan tanaman pada tempat terang dengan ciri-ciri batang yang lemas dan daun yang berwarna kuning pucat.
V.2   Saran
Sebelum penanaman, terlebih dahulu dilakukan perendaman untuk memecah dormansi biji itu sendiri. Jadi sebaiknya perendaman lebih dimaksimalkan agar dapat berhasil memecahkan dormansi biji yang akan ditanam sehingga kesalahan pengamatan lebih dapat dimaksimalkan. Serta penempatan kecambah di tempat yang tidak memungkinkan untuk di makan oleh tikus.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2011 , Pengaruh Cahaya Terhadap Pertumbuhan Biji Kacang Hijau, http:// catatanzhamal.blogspot.com/. Diakses pada tanggal 30 Nopember 2011, pukul 19.37 WITA.

Dwidjoseputro, D., 1992, Pengantar Fisiologi Tumbuhan, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Elisa, 2006, Dormansi dan Perkecambahan Biji, http://elisa.ugm.ac.id/. Diakses pada tanggal 14 Maret 2012 pukul 20.53 WITA.

Gardner, F. P., Pearce, R. B. dan Mitchell, R. L., 1991, Fisiologi Tanaman Budidaya, UI Press, Jakarta.

Latunra, A. I., 2012, Penuntun Praktikum Struktur Perkembangan Tumbuhan II, Universitas Hasanuddin, Makassar.

Salisbury, F. B. dan C. W, Ross, 1995, Fisiologi Tumbuhan Jilid 2, ITB Press, Bandung.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar