Senin, 25 Juni 2012

Mikrobiologi Umum; Perc.6 Enumerasi Langsung dan tak langsung


BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang
Di dalam bidang ilmu mikrobiologi ada suatu hal mendasar yang juga perlu diperhatikan yaitu analisia kualitatif terhadap suatu bahan. Suatu analisis ini Sangat penting untuk mengetahui jumlah mikroorganisme yang ada pada suatu sampel tertentu mengandung banyak mikroorganisme atau sebaliknya (Ferdiaz, 1992).
Analisis kualitatif atau biasa disebut dengan enumerasi mikroorganisme dalam hal ini dapat dilakukan baik dengan perhitungan langsung terhadap suatu sampel yaitu salah satunya dengan alat bantu mikroskop, maupun dengan cara tidak langsung yaitu dengan beberapa metode perhitungan (Gobel, 2008).
Dalam percobaan ini akan dibahas secara lebih lanjut mengenai bagaimana cara perhitungan jumlah sel yang ada di dalam suatu medium yang mana umumnya digunakan untuk uji mikrobiologi bahan pangan yaitu metode hitung cawan (Total Plate Counts ) dan metode hitung MPN (Most Probable Number). Sedangkan untuk metode perhitungan secara langsung dapat kita terapkan pada sampel pengujian salinitaasi lingkungan sehingga dengan demikian diharapkan kita akan lebih memahami tentang bagaimana prosedur perhitungan yang baik.
I.2 Tujuan Percobaan
Adapun tujuan dari percobaan ini adalah :
1.      Untuk mengetahui perhitungan mikroba dengan metode MPN (Most Probable Count) dan SPC ( Standart Plate Count).
2.      Untuk mengetahui teknik penggunaan alat yang digunakan untuk perhitungan mikroba metode MPN dan SPC.

I.3 Waktu dan Tempat Percobaan
Percobaan ini dilaksanakan pada hari Rabu, tanggal 2 Mei 2012, pukul 14.00 – 17.30 WITA. Dilaksanakan di Laboratorium Mikrobiologi, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Hasanuddin, Makassar.

BAB II
PENDAHULUAN

Bakteri merupakan organism prokariota uniseluler yang hanya dapat dilihat dengan menggunakan mikroskop. Cabang ilmu yang mempelajari bakteri adalah bakteriologi.
Ciri-ciri bakteri sb;
Dinding sel tersusun atas mukopolisakarida dan peptidoglikan
Tidak mempunyai membrane inti karena termasuk dalam prokariota
Bakteri ada bergerak dengan flagella namun ada juga yang tidak.
Dalam kondisi yang tidak menguntungkan bakteri mampu membuat endospora untuk bertahan hidup.
Bentuk bakteri secara umum ada 3 yaitu
Bentuk batang/basil
Bentuk bulat/kokus
Bentuk spiral/spirilium
Berdasarkan karakteristik dinding sel melalu system pewarnaan gram bakteri dibedakan menjadi 2
Gram negative: bakteri ungu, bersifat fotoautotrof dan tidak menghasilkan oksigen
Gram Positif: bakteri asam laktat, mampu memfermentasi gula dan menghasilkan asam laktat sebagai hasil akhirnya.
Istilah pertumbuhan umumnya dipergunakan bakteri dan mikroorganisme yang lainnya dan biasanya lebih mengacu pada perubahan di dalam hasil panen sel dan bukanlah dilihat. Dari pertambahan jumlah individu mikroorganisme tersebut. Suatu proses pertumbuhan menyatakan pertambahan jumlah atau massa yang melebihi dari yang ada di dalam inokulum asalnya (Volk, 1985).
Sebelum kita dapat mengevaluasi atau menafsirkan respon pertumbuhan bakteri dalam berbagai media atau pada kondisi yang berbeda- beda kita harus menyatakan pertumbuhan secara kualitatif. Di dalam bidang ilmu mikrobiologi, istilah pertumbuhan ini ditafsirkan dalam berbagai cara. Sebagai contoh mungkin dalm suatu perangkat tertentu dari kondisi pembiakan di nilai sama sebaiknya karena bakteri melakukan pertumbuhan yang relatif cepat pada stadium awal, tetapi panen sel total akhirnya belum tentu sebanyak yang di dspat pada perangkat yang lainnya (Pelczar, 1986).
Tersedia banyak teknik di dalam laboratorium untuk mengukur pertumbuhan bakteri tersebut. Alat- alat yang ada tersebut berkisar dari peralatan yang masih sederhana seperti sebuah kaca objek dengan olesan yang diwarnai. Selain itu terdapat pula metode- metode yang lain dalam pengukuran pertumbuhan bakteri, misalnya dengan metode hitung cawan, pengukuran kekeruhan dari suatu suspensi, pengukuran dengan menggunakan membran atau filter molekuler dan penentuan berat (Volk, 1985).
Suatu bakteri dapat dihitung secara elektronik yaitu dengan cara memasukkan biakan melalui lubang yang sangat kecil pada alat penghitung partikel counter. Alat penghitung yang semacam ini dapat dipakai secara rutin memecah sel darah, namun dapat pula disesuaikan untuk memecah bakteri (Volk, 1985).
Akan tetapi, bukanlah laju pertumbuhan bakteri yang tepat melainkan ada atau tidaknya pertumbuhan bakteri yang akan menjadi perhatian. Adapun cara yang dilakukan untuk menentukannya, yaitu hanyalah dengan melihat biakan. Suatu medium cair akan berubah menjadi keruh sedangkan medium yang padat paada umumnya akan memperlihatkan pertumbuhan, baik itu pada permukaan dari medium maupun di dalam medium tersebut (Hadioetomo, 1996).
Penetapan jumlah bakteri di dalam suatu populasi bakteri mungkin saja akan mengalami hambatan. Hal ini karena tidak semua sel yang ada di dalam suatu biakan itu mampu untuk hidup secara trus- menerus. Jadi dalam perhitungan ini maka yang dianggap sebagai sel hidup adalah sel yang membentuk koloni di dalam medium biakan atau dapat juga digunakan bakteri yang mampu membentuk suspensi di dalam medium biakan. Sel- sel yang mampu hidup terus adalah yang dihitung dengan berbagai metode untuk menetapkan jumlah selnya. Pada jumlah total sel, maka ikut dihitung semua sel yang tampak atau yang dapat dihitung dengan cara yang lainnya, sehingga dengan demikian sel-sel mati dan cacat akan ikut terhitung (Indra, 2008).
Untuk menentukan jumlah bakteri yang ada di dalam suatu medium maka dapat digunakan beberapa cara sebagai berikut (Lay, 1994):
• Jumlah bakteri secara keseluruhan (total cell counts). Pada cara ini di hitung semua bakteri yang ada di dalam suatu medium biakan baik yang hidup maupun yang mati.
• Jumlah bakteri8 yang hidup (Viable count). Cara ini hanya menggambarkan jumlah sel yang hidup saja, sehingga lebih tepat jika dibandingkan dengan cara yang pertama tadi.
Koloni yang tumbuh di dalam suatu medium itu tidaklah selalu berasal dari satu sel mikroorganisme, karena beberapa mikroorganisme tertentu cenderung untuk berkelompok atau berabtai. Bila ditumbuhkan pada suatu medium dengan lingkungan yang sesuai, maka kelompok bakteri ini hanya akan menghasilkan satu koloni saja. Berdasarkan hal tersebut sering kali digunakan istilah Colony Forming Units (CFU) yang digunakan untuk perhitungan jumlah mikroorganisme hidup (Dwidjoseputro, 1996).
Dalam perhitungan jumlah mikroorganisme ini seringkali digunakan pengenceran. Di dalam laboratorium, pengenceran di lakukan dengan botol pengenceran seperti lazimnya pada SPC, namun dapat pula menggunakan tabung reaksi. Pada pengenceran dengan menggunakan botol cairan terlebih dahulu dikocok dengan baik sehingga kelompok sel dapat terpisah. Pengenceran sel dapat membantu untuk memperoleh perhitungan jumlah mikroorganisme yang benar. Namun pengenceran yang terlalu tinggi akan menghasilkan lempengan agar dengan jumlah koloni yang umumnya relatif rendah (Hadioetomo, !996).
Pada metode perhitungan cawan dilakukan pengenceran yang bertingkat yang mana ditujukan untuk membentuk konsentrasi dari suatu suspensi bakteri. Sampel yang telah di encerkan ini di hitung ke dalam cawan baru kemudian di tuang ke mediumnya (metode tuang). Kemudian setelah diinkubasi selama 24- 48 jam, amati koloni yang tumbuh dan koloni yanng diamati hanyalah koloni yang berjumlah 30- 300 koloni (Gobel, 2008).
Adapun prinsip dari metode hitung cawan ini adalah jika sel jasad renik yang masih hidup ditumbuhkan pada suatu medium agar, maka sel jasad renik tersebut akan berkembang biak dan membentuk koloni yang dapat di lihat langsung dan dihitung dengan mata tanpa menggunakan alat bantu seperti mikroskop dan sebagainya. Metode hittung cawan ini merupakan cara yang paling sensitif untuk menentukan jumlah jassad renik karena beberapa hal yaitu (Ferdiaz, 1992):
• Hanya sel yang masih hidup yang dihitung
• Beberapa jenis jasad renik dapat dihitung sekaligus
• Dapat digunakan untuk mengisolasi dan identifikasi jasad renik karena koloni yang terbentuk mungkin berasal dari suatu jassad renik yang mempunyai penampakan yang spesifik.
Untuk metode MPN (Most probable number) digunakan medium cair dalam wadah berupa tabung reaksi, perhitungan di lakukan bwerdasarkan jumlah tabung yang positif yaitu tabung yang mengalami perubahan pada mediumnya baik itu berupa perubahan warna atau terbentuknya gelembung gas pada dasar tabung durham. Pada metode perhitungan MPN ini digunakan bentuk tiga seri pengenceran, yang pertama 10 ¹, 10 ², dan 10 ³. Kemudian dari hasil perubahan tersebut dicari nilai MPNnya pada tabel nilai MPN, dan untuk jumlah bakterinya maka digunakan rumus (Gobel, 2008):
Bakteri = nilai MPN x 1/pengenceran tengah
Selain dengan cara tidak langsung seperti yang telah dijelaskan di atas, perhitungan jumlah mikroorganisme di dalm suatu medium dapat juga dilakukan secara langsung, dimana dengan metode ini jumlah mikroorganisme tersebut dapat ditentukan langsung dengan menggunakn alat bantu berupa mikroskop, Colony counter dan hemasitometer. Adapun keuntungan penggunaan hemasitometer adalah penggunaannya yang tidak memakan waktu banyak dan juga biaya. Sedangkan kelemahan dari penggunaan hemasitometer adalah tidak dapat membedakan antara sel hidup dan sel mati, kesulitan dalam perhitungan bakteri yang berukuran kecil karena tidak dapat dibantu dengan minyak imersi, hanya dapat dibantu dengan tween 80% (bahan anti gumpal (Gobel, 2008).
Metode Pour Plate atau biasa disebut metode tuang yaitu cara menghitung bakteri dalam media NA berdasarkan jumlah koloni yang didapat.
Metode Pour Plate/tuang artinya suspense yang terlebih dahulu dimasukan ke wadah dalam hal ini cawan petri, setelah suspense dimasukan maka tuanglah media NA ke cawan petri yang sudah berisi suspense.
Aturan-aturan dalam standar plate count (SPC)
Jumlah Koloni 30—300 koloni
Beberapa jumlah koloni yang bergabung dihitung satu koloni
Gabungan satu garis tebal dihitung satu koloni
Jika lebih kecil dari 30 koloni, pengenceran terendah yg dihitung
Jika lebih besar dari 300 koloni, pengenceran tertinggi yg dihitung
Jika antara 30-300 dari dua tingkat pengenceran dan perbandingan antara hasil tertinggi dan terendah dari pengenceran tsb lebih kecil atau = 2, dilaporkan rata-ratanya.
Jika lebih besar dari 2 maka yang dilaporkan adalah hasil yang terkecil.
Pendekatan lain untuk perhitungan bakteri hidup adalah dengan metode MPN. MPN didasarkan pada metode statistik (teori kemungkinan). Metode MPN ini umumnya digunakan untuk menghitung jumlah bakteri pada air khususnya untuk mendeteksi adanya bakteri koliform yang merupakan kontaminan utama sumber air minum. hitung nilai MPN dengan menggunakan rumus sb;
MPN sampel = Nilai MPN table x 1
Factor pengenceran ditengah

BAB III
METODE KERJA
III. 1 Alat
Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah enkas, Bunsen, hand sprayer, tabung reaksi, botol pengencer, cawan petri, spoid, tabung durham, Erlenmeyer, autoclave, incubator dan rak tabung.

III.2 Bahan
Bahan yang dipergunakan pada percobaan ini adalah aquades, sampel es cocktail, sampel es warna, sampel air galon rektorat, medium NA (nutrient agar), medium LB (lactose broth), alcohol 70%, tissue, kapas, cling wrap, korek gas, aluminium foil dan kertas label.

III.3 Cara Kerja
Adapun cara kerja dari percobaan ini adalah :
a.       Metode MPN (Most Probable Number)
1.      Mensterilkan enkas dengan menyemprotkan alcohol 70% ke dinding dalam enkas lalu dilap menggunakan tissue hingga bersih kemudian menyalakan Bunsen di dalam enkas.
2.       Menyiapkan alat dan bahan di dalam enkas.
3.      Mengambil larutan sampel es cocktail sebanyak 1 ml menggunakan spoid lalu memindahkannya ke dalam botol pengenceran pertama ( 10-1) yang sudah terlebih dahulu dilidah apikan mulut botol yang sudah berisi aquades steril sebanyak 9 ml kemudian digoyangkan hingga merata sehingga didapatkan pengenceran 10-1.
4.      Mengambil dan memindahkan larutan dari botol pengenceran pertama (10-1) sebanyak 1 ml menggunakan spoid ke dalam botol pengenceran kedua (10-2) yang sebelumnya telah dilidahapikan mulut botolnya yang sudah berisi aquades steril sebanyak 9 ml kemudian digoyangkan hingga merata sehingga didapatkan pengenceran 10-2.
5.      Mengambil dan memindahkan larutan dari botol pengenceran kedua (10-2) sebanyak 1 ml menggunakan spoid ke dalam botol pengenceran ketiga (10-3) yang sebelumnya telah dilidahapikan mulut botolnya yang sudah berisi aquades steril sebanyak 9 ml kemudian digoyangkan hingga merata sehingga didapatkan pengenceran 10-3.
6.      Mengambil dan memindahkan 1 ml larutan dari botol pengenceran pertama menggunakan spoid ke dalam 3 tabung reaksi yang telah berisi larutan Lactosa Broth dan tabung durham.
7.      Mengambil dan memindahkan 1 ml larutan dari botol pengenceran kedua menggunakan spoid ke dalam 3 tabung reaksi yang telah berisi larutan Lactosa Broth dan tabung durham
8.      Mengambil dan memindahkan 1 ml larutan dari botol pengenceran ketiga menggunakan spoid ke dalam 3 tabung reaksi yang telah berisi larutan Lactosa Broth dan tabung durham
9.      Menginkubasi 9 tabung reaksi tadi ke dalam incubator selama 1 x 24 jam pada suhu 37oc.

b.      Metode SPC ( Standart Plate Count)
1.      Mensterilkan enkas dengan menyemprotkan alcohol 70% ke dinding dalam enkas lalu dilap menggunakan tissue hingga bersih kemudian menyalakan Bunsen di dalam enkas.
2.       Menyiapkan alat dan bahan di dalam enkas.
3.      Mengambil dan memindahkan larutan dari botol pengenceran ketiga (10-3) sebanyak 1 ml menggunakan spoid ke dalam botol pengenceran keempat (10-4) yang sebelumnya telah dilidahapikan mulut botolnya yang sudah berisi aquades steril sebanyak 9 ml kemudian digoyangkan hingga merata sehingga didapatkan pengenceran 10-4.
4.      Mengambil dan memindahkan larutan dari botol pengenceran keempat (10-4) sebanyak 1 ml menggunakan spoid ke dalam botol pengenceran kelima (10-5) yang sebelumnya telah dilidahapikan mulut botolnya yang sudah berisi aquades steril sebanyak 9 ml kemudian digoyangkan hingga merata sehingga didapatkan pengenceran 10-5.
5.      Mengambil dan memindahkan larutan dari botol pengenceran kelima (10-5) sebanyak 1 ml menggunakan spoid ke dalam botol pengenceran keenam (10-6) yang sebelumnya telah dilidahapikan mulut botolnya yang sudah berisi aquades steril sebanyak 9 ml kemudian digoyangkan hingga merata sehingga didapatkan pengenceran 10-6.
6.      Untuk pengenceran pada botol pengenceran keempat, kelima dan keenam, masing-masing diambil 1 ml larutan dengan menggunakan spoid lalu dipindahkan ke dalam 3 cawan petri steril.
7.      Menuangkan larutan Nutrient Agar (NA) ke dalam 3 cawan petri yang sebelumnya dilidahapikan mulut Erlenmeyer NA dan tepi cawan petri.
8.      Menggoyangkan cawan petri secara horizontal.
9.      Membungkus tepi cawan petri dengan cling wrap dan tunggu hingga medium memadat.
10.  Menginkubasi cawan petri kedalam inkubator pada suhu 37oc selama 1 x 24 jam.
  
BAB IV
HASIL PENGAMATAN

IV.1 Hasil
IV.1.1  Gambar
a.       Metode MPN (Most Probable Number)
Pengamatan 10-1
Sebelum
Sesudah










Keterangan:
1.      Kapas
2.      Tabung reaksi
3.      Tabung durham
4.      Medium LB
5.      Gelembung gas

Pengamatan 10-2
Sebelum
Sesudah









Keterangan:
1.      Kapas                                 3. Tabung durham                5. Gelembung gas
2.      Tabung reaksi                    4. Medium LB

Pengamatan 10-3
Sebelum
Sesudah









Keterangan:
1.      Kapas                                    3. Tabung durham                5. Gelembung gas
2.      Tabung reaksi                       4. Medium LB

b.      Metode SPC (Standart Plate Count)
Pengamatan 10-4
Sebelum
Sesudah









Keterangan:
1.      Cawan Petri                    2. Medium NA             3. Koloni mikroba

Pengamatan 10-5
Sebelum
Sesudah








Keterangan:
1.      Cawan Petri                    2. Medium NA             3. Koloni mikroba

Pengamatan 10-6
Sebelum
Sesudah









Keterangan:
1.      Cawan Petri                    2. Medium NA             3. Koloni mikroba

IV.1.2  Tabel
a.       Metode MPN (Most Probable Number)
Sampel
Jumlah Tabung positif
Nilai MPN
Jumlah sel / ml
10-1
10-2
10-3
Es warna
Es cocktail
Air galon rektorat
3
3
0
3
3
2
3
3
0
>24,00
>24,00
0,062
2,4 x 103
2,4 x 103
6,2

b.      Metode SPC (Standart Plate Count)
Sampel
Jumlah Tabung positif
Jumlah sel / ml
10-4
10-5
10-6
Es warna
Es cocktail
Air galon rektorat
6
497
1
5
141
4
1
10
1
6 x 104
1,41 x 107
1 x 104

IV.2 Perhitungan
a.       Metode MPN (Most Probable Number)
-          Es warna
MPN count     =   nilai MPN     x       1  /   factor pengenceran tengah
                        =   24,00    x     1   /  10-2         =    2,4 x 103 sel / ml
-          Es cocktail
MPN count     =   nilai MPN     x       1  /   factor pengenceran tengah
                        =   24,00    x     1   /  10-2         =    2,4 x 103 sel / ml
-          Air galon rektorat
MPN count     =   nilai MPN     x       1  /   factor pengenceran tengah
                        =   0,062    x     1   /  10-2         =    6,2  sel / ml
b.      Metode SPC (Standart Plate Count)
-          Es warna
Jumlah sel        =   v   x   n   x   1 / F
                        =   1   x   6   x   1 / 10-4            =    6   x   104 sel / ml
-          Es cocktail
Jumlah sel        =   v   x     n     x   1 / F
                        =   1   x   141   x   1 / 10-5        =    1,41   x   107 sel / ml
-          Air galon rektorat
Jumlah sel        =   v   x   n   x   1 / F
                        =   1   x   1   x   1 / 10-4            =    1   x   104 sel / ml
IV.3 Pembahasan
            Enumerasi mikroorganisme atau analisis kuantitatif biasa dilakuakn dengan cara penghitungan langsung terhadap suatu sampel yaitu salah satunya dengan alat bantu mikroskop maupun dengan cara penghitungan tidak langsung yaitu dengan beberapa metode penghitungan. Pada percobaan ini kami melakukan analisis kuantitatif mikroorganisme atau enumerasi dengan cara penghitungan tidak langsung yaitu MPN ( Most Probable Number) dan SPC ( Standart Plate Count).
a.       Metode MPN (Most Probable Number)
MPN merupakan suatu metode enumerasi mikroorganisme yang menggunakan data dari hasil pertumbuhan mikroorganisme pada medium cair spesifik dalam seri tabung yang terdapat sampel pada atau cair berdasarkan  jumlah sampel atau diencerkan menurut tingkat seri tabungnya sehingga dihasilkan kisaran jumlah mikroorganisme yang diuji dalam nilai MPN atau satuan volume atau massa sampel. Kelebihan dari metode ini ialah MPN cocok digunakan untuk sampel dengan konsentrasi mikroorganisme yang rendah khususnya jenis sampel air, susu atau makanan terutama yang memiliki partikel yang larut di dalam sampel. Kekurangan dari metode ini ialah tidak adanya kepastian dari jumlah koloni mikroba yang terdapat di dalam sampel melainkan mengandalkan angka atau nilai yang menggambarkan hasil yang paling mungkin atau probable.
Medium yang digunakan pada metode ini ialah medium lactose broth yang ditempatkan didalam tabung reaksi serta ditaruh tabung durham didalam tabung reaksi. Penggunaan lactose broth ini dikhususkan untuk mendeteksi bakteri koliform atau bakteri yang biasa hidup didalam sistem pencernaan. Indicator yang menunjukkan adanya bakteri koliform yaitu dengan melihat perubahan warna medium dan pembentukan gelembung gas di dalam tabung durham. Apabila warna medium berubah menjadi kuning menandakan terjadinya fermentasi asam yang biasa dilakukan oleh bakteri koliform sedangkan apabila terdapat gas didalam tabung durham menandakan terjadinya fermentasi yang dilakukan bakteri koliform sehingga menghasilkan gas oksigen pada hasil fermentasinya. Cara penghitungan dengan melihat indicator yang terjadi pada setiap seri tabung lalu disesuaikan ke dalam table nilai MPN untuk mengetahui nilai MPN-nya. Kemudian dikalkulasikan dengan nilai 1 / factor pengenceran tengah. Rumusnya ialah
MPN count     =   nilai MPN   x    1  /  factor pengenceran tengah
Pada hasil yang diperoleh untuk sampel es cocktail, terlihat pada seri pengenceran pertama atau 10-1 , ketiga seri tabung menunjukkan hasil yang positif dengan indicator terjadi perubahan warna medium menjadi kuning serta terbentuknya gas didalam tabung durham. Pada seri pengenceran kedua atau 10-2, ketiga seri tabung menunjukkan hasil yang positif dengan indicator terjadi perubahan warna medium menjadi kuning serta terbentuknya gas didalam tabung durham. Pada seri pengenceran ketiga atau 10-3, ketiga seri tabung menunjukkan hasil yang positif dengan indicator terjadi perubahan warna medium menjadi kuning serta terbentuknya gas didalam tabung durham. Sehingga diperoleh nilai MPN menurut table yaitu lebih besar dari 24,00 serta nilai jumlah mikroba pada MPN count yaitu 2,4 x 103 sel / ml.
Dilihat dari hasil perhitungan, diketahui bahwa ofaktor kontaminan yang terdapat di dalam sampel sangat berpengaruh dilihat dari tingginya jumlah kemungkinan sel bakteri tiap ml sampel yang mencapai 2,4 x 103 sel / ml. mikroba kontaminan yang dominan apabila dilihat dari fermentasi yang dilakukan ialah bakteri koliform atau bakteri yang biasa hidup di system pencernaan. Pada percobaan ini, sampel yang memiliki kontaminasi tinggi ialah es cocktail dan es warna karena 3 seri tabungnya positif semua.
b.      Metode SPC (Standart Plate Count)
SPC merupakan suatu metode enumerasi mikroorganisme yang menggunakan data dari hasil pertumbuhan mikroorganisme berupa koloni mikroba pada medium padat yang terdapat sampel padat atau cair. Pada metode ini dilakukan pengenceran yang bertingkat untuk membentuk konsentrasi dari suatu suspense bakteri. Prinsip dari metode ini ialah jika mikroba hidup ditumbuhkan pada suatu medium agar, maka mikroba tersebut akan berkembang biak dan memebentuk koloni yang dapat dilihat langsung dan dihitung. Kelebihan dari metode ini ialah hanya mikroba hidup yang dihitung, nilai kemungkinan dari jumlah mikroba tiap ml lebih akurat, dapat diidentifikasi mikroba kontaminan yang hidup pada sampel. Kekurangan dari penggunaan metode ini ialah hasil yang diperoleh tergantung pada kondisi medium dan inkubasi, mikroba yang ditumbuhkan harus dapat tumbuh pada medium padat dan membentuk koloni yang jelas.
Medium yang digunakan pada metode ini ialah medium NA. tujuan dari penggunaan medium NA karena medium ini merupakan medium umum yang digunakan untuk menumbuhkan segala jenis mikroba. Teknik isolasi yang digunakan yaitu dengan metode tuang. Tujuan dari penggunaan metode tuang ini agar mikroba yang tumbuh pada medium tidak hanya  dikhususkan pada mikroba tertentu sehingga tidak dibatasi antara pertumbuhan mikroba aerob dan mikroba anaerob bisa berkembang biak pada medium agar. Biasanya koloni yang tumbuh berupa koloni-koloni terpisah dengan warna yang serupa.
Cara penghitungan dari metode SPC ini hanya dengan menghitung koloni yang terdapat pada medium agar, kemudian dimasukkan ke dalam rumus :
Jumlah sel        =   v    x    n   x   1 / F
Untuk mengetahui nilai factor pengenceran dengan cara apabila koloni yang dihitung mencapai antara 30 – 300 pada suatu pengenceran maka nilai pengencerannya yang diambil. Apabila jumlah koloni lebih dari 300 untuk semua seri pengenceran maka diambil factor pengenceran tertinggi berdasarkan pengencerannya. Apabila jumlah koloni kurang dari 30 untuk semua seri pengenceran maka diambil factor pengenceran terendah berdasarkan pengencerannya.
Pada hasil yang diperoleh untuk sampel es cocktail, untuk seri pengenceran ke-4 atau 10-4 memiliki jumlah koloni yang banyak yaitu 497 sehingga ditetapkan sebagai TBUD atau terlalu banyak untuk dihitung. Untuk seri pengenceran ke-5 atau 10-5 memiliki jumlah koloni yaitu 141. Untuk seri pengenceran keenam atau 10-6 memiliki jumlah koloni yang sedikit yaitu 10 sehingga ditetapkan sebagai TFTC atau to few to count. Dari hasil penghitungan koloni dapat ditentukan dengan mudah nilai factor pengenceran yang akan digunakan pada penghitungan yaitu seri pengenceran 10-5 karena jumlah koloni yang tumbuh berada diantara nilai standar jumlah koloni yaitu antara 30 – 300 koloni. Sehingga dapat diketahui jumlah sel mikroba untuk tiap ml sampel yaitu 1,41 x 107 sel / ml.
Pada sampel es cocktail memiliki jumlkah koloni yang cukup banyak pada 3 seri pengenceran terakhir yaitu 10-4, 10-5 dan 10-6. Dapat diketahui bahwa sampel mengandung banyak mikroba karena pada hasil penghitungan jumlahnya mencapai 1,41 x 107 sel / ml. kontaminasi yang terjadi pada sampel ini sangan berpengaruh sehingga menimbulakn jumlah koloni yang banyak terutama pada seri pengenceran 10-4. Pada metode ini yang memiliki tingkat kontaminasi tertinggi ialah pada sampel es cocktail.

BAB V
PENUTUP

V.1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang diperoleh dari percobaan ini adalah
1.      Teknik penghitungan mikroba pada metode MPN dengan cara melihat indicator yang terjadi pada medium sehingga bias ditentukan jumlah tabung positif lalu dicocokkan dengan table nilai MPN kemudian kalkulasikan dengan factor pengenceran tengah. Pada teknik penghitungan mikroba pada metode SPC dengan cara menghitung jumlah koloni tunggal yang tumbuh pada medium padat di cawan petri.
2.      Pada metode MPN menggunakan alat tabung reaksi yang didalamnya diberi tabung durham, penggunaan tabung reaksi sebagai tempat medium LB sedangkan penggunaan tabung durham sebagai indicator untuk mengehathui produksi gas sebagai hasil fermentasi yang dilakukan bakteri pada medium. Pada metode SPC menggunakan alat cawan petri sebagai tempat isolasi yang berisi medium NA yang akan dicampur dengan suspense pengenceran dari sampel.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar