Minggu, 24 Juni 2012

Sistematik Vertebrata; Amphibi



BAB I
PENDAHULUAN

Amphibi merupakan hewan dengan kelembaban kulit yang tinggi, tidak tertutupi oleh rambut dan mampu hidup di air maupun di darat. Amphibia berasal dari bahasa Yunani yaitu Amphi yang berarti dua dan Bios yang berarti hidup. Karena itu amphibi diartikan sebagai hewan yang mempunyai dua bentuk kehidupan yaitu di darat dan di air. Pada umumnya, amphibi  mempunyai siklus hidup awal di perairan dan siklus hidup kedua adalah di daratan (Wikipedia, 2012).
Pada fase berudu amphibi hidup di perairan dan bernafas dengan insang. Pada fase ini berudu bergerak menggunakan ekor. Pada fase dewasa hidup di darat dan bernafas dengan paru-paru. Pada fase dewasa ini amphibi bergerak dengan kaki. Perubahan cara bernafas yang seiring dengan peralihan kehidupan dari perairan ke daratan menyebabkan hilangnya insang dan rangka insang lama kelamaan menghilang. Pada anura, tidak ditemukan leher sebagai mekanisme adaptasi terhadap hidup di dalam liang dan bergerak dengan cara melompat (Wikipedia, 2012).
Amphibia memiliki kelopak mata dan kelenjar air mata yang berkembang baik. Pada mata terdapat membrana nictitans yang berfungsi untuk melindungi mata dari debu, kekeringan dan kondisi lain yang menyebabkan kerusakan pada mata. Sistem syaraf mengalami modifikasi seiring dengan perubahan fase hidup (Wikipedia, 2012).


BAB II
PEMBAHASAN

Amphibi adalah vertebrata yang secara tipikal dapat hidup baik dalam air tawar (tak ada yang di air laut) dan di darat. Sebagaian besar mengalami metamorfosis dari berudu (akuatis dan bernapas dengan insang) ke dewasa (amfibius dan bernapas dengan paru-paru), namun beberapa jenis amphibi tetap mempunyai insang selama hidupnya. Jenis-jenis yang sekarang ada tidak mempunyai sisik luar, kulit biasanya tipis dan basah (Brotowidjoyo, 1989).
Salah satu contoh kelas amphibi adalah salamander, katak, kintel, ichthyosis sebagai amphibi daerah tropis yang tidak berkaki dan beberapa hewan lain yang hanya tinggal fosilnya. Amphibi merupakan makanan bagi berbagai macam vertebrata lainnya. Beberapa spesies digunakan untuk pengajaran dan penelitian dalam biologi (Jasin, 1991).
Ciri-ciri Khusus Amphibi
Adapun ciri-cirinya yaitu (Jasin, 1991) :
1.      Kulit selalu basah dan berkelenjar (yang masih senang atau dekat air), tidak bersisik luar.
2.      -Memiliki dua pasang kaki untuk berjalan dan berenang, yang jarinya 4-5 atau lebih sedikit dan tidak bersirip.
3.      Terdapat dua nares (lubang hidung sebelah luar) yang menghubungkan dengan cavum oris. Padanya terdapat klep untuk menolak air (waktu dalam air). Mata berkelopak yang dapat digerakkan, lembar gendang pendengar terletak disebelah luar. Mulut bergigi dan berlidah yang dapat dijulurkan ke muka.
4.      Skeleton sebagian besar berupa tulpang keras, tempurung kepalanya memiliki dua condyl dan bila memiliki costae (tulang rusuk) tidak menempel pada sternum (tulang dada).
5.      Cor terbagai atas tiga ruangan, yaitu dua ruangan auricula (serambi) dan satu ruang ventriculum (bilik) dan mempunyai satu atau tiga pasang archus aorticus serta eritrosit berbentuk oval dan bernukleus.
6.      Pernapasannya dengan insang, paru-paru, kulit atau celah mulut (rima oris). Pernapasan itu dapat terpisah atau kombinasi paru-paru dan kulit insang. Insang terdapat dalam beberapa fase dalam sejarah hidupnya serta memiliki pita suara baik pada kinetel maupun pada katak.
7.      Otak memiliki 10 pasang nervi cranialis.
8.      Suhu tubuh tergantung pada lingkungannya (poikilothermis).
Amphibia memiliki kelopak mata dan kelenjar air mata yang berkembang baik. Pada mata terdapat membrana nictitans yang berfungsi untuk melindungi mata dari debu, kekeringan dan kondisi lain yang menyebabkan kerusakan pada mata. Sistem syaraf mengalami modifikasi seiring dengan perubahan fase hidup (Wikipedia, 2012).

            Pada sistematik Amphibi ini, terdiri atas dua sumber yaitu :
1.      Sistematik Maskoeri Jasin
Membagi Kelas Amphibi menjadi 3 Sub kelas:
a.       Sub kelas Stegocephalia yang terdiri atas 1 Ordo saja yaitu Gymnophiona atau Apoda. Sedangkan Ordo lainnya telah punah. Contoh dari Ordo Gymnophiona yaitu Ichtyopsis glutinosus dan Typhanonectes sp.
b.      Sub kelas Caudata/Urodela.
Dimana tubuh dapat dibedakan atas cephal, cervix, truncus dan cauda. Extremitas mempunyai bagian-bagian tulang yang sama.
Sub kelas ini terbagi atas 3 ordo, yaitu :
·         Ordo Proteida , contoh : Necturus sp dan Proteus sp.
·         Ordo Mutabilia, contoh : Cryptobranchus alleganiensis.
·         Ordo Meantes, contoh : Siren lacertina.
c.       Sub kelas Salientia/Anura/Katak yang sebenarnya
Cephal menjadi cervix menjadi satu. Sering tak berleher dan tak berekor. Extrimitas belakang membesar dan extrimitas muka agak kecil. Terbagi atas menjadi 5 ordo yaitu:
·         Ordo Amphicoela , yang bervertebrae cekung kedua ujungnya.
·         Ordo Opistocoela yang bervertebrae cembung sebelah anterior dan cekung sebelah posterior.
·         Ordo Anomocoela, permukaan kedua ujung vertebrae tidak teratur. Contoh Pilobates sp.
·         Ordo Procoela, bervertebrae cekung sebelah anterior dan pada Bufo cembung sebelah posterior. Contoh Bufo sp, Pseudis sp, Hyla sp dan Criniz sp.
·         Ordo Diplocoela, cingulum cranialis bersenyawa dengan sternum yang disebut firmisternal. Ordo ini terdiri atas beberapa famili yaitu:
*      Famili Polypeditidae, sebagai katak pohon dunia lama. Contoh Philotus aurifasiatus, bertelur di pohon tanpa fase berudu.
*      Famili Microhylidae, sebagai kintel yang bermulut kecil.
*      Famili Ranidae, yang terkenal sebagai katak. Contoh Rana macrodon (Katak raksasa), terdapat di rawa-rawa Bukit Tinggi, Rana pipiens dan Rana esculenta, Rana catestiana.
  
2.      Sistematik Mukayat Djarubito Brotowidjoyo
Pada kelas Amphibi terdiri atas 3 bangsa/ordo yaitu:
a.      Ordo Caudata (Urodela)
Urodela disebut juga caudata dan merupakan amphibi yang pada bentuk dewasa mempunyai ekor. Tubuhnya berbentuk seperti bengkarung (kadal). Pada beberapa jenis dewasa tetap mempunyai insang, sedang jenis-jenis lain insangnya hilang. Sehingga jenis lainnya bernapas menggunakan paru-paru (Brotowidjoyo, 1989).
Ordo ini mempunyai ciri bentuk tubuh memanjang, memiliki ekor, mempunyai anggota gerak yang kakinya kira-kira sama besar serta tidak memiliki tympanum. Tubuh dapat dibedakan antara kepala, leher dan badan. Pada bagaian kepala terdapat mata yang kecil dan pada beberapa jenis, mata mengalami reduksi. Fase larva hampir mirip dengan fase dewasa. Dari larva menjadi dewasa memerlukan beberapa tahun. Contohnya Megalobatrachus japonicus (salamander raksasa, di Cina dan Jepang, kira-kira 150 cm), Ambystoma tigrinum (pada saat dewasa tidak mempunyai insang), Hynobius sp dan Ranodom sp (terdapat di Asia), katak pohon Polypedates sp (Brotowidjoyo, 1989).
Urodela mempunyai 3 sub ordo yaitu Meantes, Cryptobranchoidea dan Salamandroidea. Sub ordo Meantes hanya memiliki 1 famili yaitu Sirenidae sedangkan sub ordo Cryptobranchoidea memiliki 2 famili yaitu Cryptobranchidae dan Hynobiidae. Sub ordo Salamandroidea memiliki 7 famili yaitu Amphiumidae, Plethodontidae, Rhyacotritoniade, Proteidae, Ambystomatidae, Dicamptodontidae dan Salamandridae (Brotowidjoyo, 1989) .
a.       Subordo : Cryptobranchoidea
     Familia :Cryptobranchidae
 Familia : Hynobiidae
b.      Subordo : Salamandroidea
                            Familia : Salamandridae    
                             Familia :Proteidae,
                            Familia :Ambystomatidae
                            Familia :Amphiumidae
                            Familia: Dicamtodontidae
                            Familia :Plethodontidae
                            Familia :Rhyacotritoniade
c.       Subordo : Meantes, Familia :Sirenidae
Morfologi ordo Urodela :
                                                
                                     
                                      Klasifikasi ordo Urodela
Kingdom : Animalia
Phylum   : Chordata
Kelas        : Amphibi
Ordo        : Caudata
Family     : Hynobiidae
Genus       : Hynobius
Spesies     : Hynobius abei
b.      Ordo Gymnophiona (Apoda)
Ordo ini mempunyai anggota yang ciri umumnya adalah tidak mempunyai kaki sehingga disebut Apoda. Tubuh menyerupai cacing (gilig), bersegmen, tidak bertungkai, dan ekor mereduksi. Hewan ini mempunyai kulit yang kompak, mata tereduks dan tidak mempunyai kelopak, retina pada beberapa spesies berfungsi sebagai fotoreseptor. Di bagian anterior terdapat tentakel yang fungsinya sebagai organ sensori (Brotowidjoyo, 1989).
Kelompok ini menunjukkan 2 bentuk dalam daur hidupnya. Pada fase larva hidup dalam air dan bernafas dengan insang. Pada fase dewasa insang mengalami reduksi, dan biasanya ditemukan di dalam tanah atau di lingkungan akuatik.
 Memiliki 6 famili yaitu Familia Ichthyopidae, famili ini ada di Indonesia. Anggota famili ini mempunyai ciri-ciri tubuh yang bersisik, ekornya pendek, mata relatif berkembang. Reproduksi dengan oviparous. Larva berenang bebas di air dengan tiga pasang insang yang bercabang yang segera hilang walaupun membutuhkan waktu yang lama di air sebelum metamorphosis. Famili lainnya yaitu Familia Caecilidae, Familia Rhinatrematida, Familia Scoleocomorphidae, Familia Uracotyphlidae dan Familia Typhlonectidae (Brotowidjoyo, 1989).
     Ciri - cirinya adalah :
1.      Tidak mempunyai kaki sehingga disebut Apoda.
2.      Tubuh menyerupai cacing (gilig), bersegmen, tidak bertungkai, dan ekor mereduksi.
3.      Hewan ini mempunyai kulit yang kompak, mata tereduksi, tertutup oleh kulit atau tulang, retina pada beberapa spesies berfungsi sebagai fotoreseptor.
4.      Di bagian anterior terdapat tentakel yang fungsinya sebagai organ sensory.
5.      Kelompok ini menunjukkan 2 bentuk dalam daur hidupnya. Pada fase larva hidup dalam air dan bernafas dengan insang.
Klasifikasi : Ichthyophis sp
Kingdom         : Animalia
Filum               :Chordata
Subphylum      :
Vertebrata
Infraphylum    :
Gnathostomata
Superclassis     :
Tetrapoda
Classis             :Amphibia
Subclassis        :
Lissamphibia
Ordo                :
Gymnophiona
Familia            :
Ichthyophiidae
Genus              :
Ichthyophis
Species            : Ichthyophis sp.
c.       Anura/Salientia (katak dan kodok)
Nama anura mempunyai arti tidak memiliki ekor. Seperti namanya, anggota ordo ini mempunyai ciri umum tidak mempunyai ekor, kepala bersatu dengan badan, tidak mempunyai leher dan tungkai berkembang baik. Tungkai belakang lebih besar daripada tungkai depan. Hal ini mendukung pergerakannya yaitu dengan melompat. Pada beberapa famili terdapat selaput diantara jari-jarinya. Membrana tympanum terletak di permukaan kulit dengan ukuran yang cukup besar dan terletak di belakang mata. Kelopak mata dapat digerakkan. Mata berukuran besar dan berkembang dengan baik. Fertilisasi secara eksternal dan prosesnya dilakukan di perairan yang tenang dan dangkal (Brotowidjoyo, 1989).
Salah satu spesies dari ordo ini yaitu katak bangkong (Bufo terrestris, Bufo boreas)dan kodok hijau Rana pipiens (Brotowidjoyo, 1989).
Klasifikasi :
Kingdom                     : Animalia
Phylum                        : Chordata
Class                            : Amphibia
Ordo                            : Anura
Famili                          : Bufonidae
Genus                          : Bufo
Spesies                         : Bufo asper

BAB III
PENUTUP

Amphibi merupakan hewan dengan kelembaban kulit yang tinggi, tidak tertutupi oleh rambut dan mampu hidup di air maupun di darat. Pada umumnya, amphibia mempunyai siklus hidup awal di perairan dan siklus hidup kedua adalah di daratan. Pada fase berudu amphibi hidup di perairan dan bernafas dengan insang. Pada fase ini berudu bergerak menggunakan ekor. Pada fase dewasa hidup di darat dan bernafas dengan paru-paru. Pada fase dewasa ini amphibi bergerak dengan kaki. Perubahan cara bernafas yang seiring dengan peralihan kehidupan dari perairan ke daratan menyebabkan hilangnya insang dan rangka insang lama kelamaan menghilang.
Berdasarkan bentuk tubuh dan pertulangannya amphibia terdiri dari 3 ordo yaitu Urodela (caudata), Gymnophiona (apoda) dan Anura ( katak dan kodok).

DAFTAR PUSTAKA

Brotowidjoyo, Mukayat.,1989. Zoologi Dasar. Erlangga. Jakarta.
Jasin, Maskoeri., 1991. Zoologi Vertebrata Untuk Perguruan Tinggi. Sinar Wijaya. Surabaya.

Wikipedia, 2011. Vertebrata. http://www. Wikipedia.org. Diakses pada tanggal 22 Februari 2011 pukul 16.54 WITA.


 MAKALAH
SISTEMATIK VERTEBRATA

AMPHIBI
OLEH :
KELOMPOK 6
JULIAR NUR (H411 10 002)
MAGFIRAH NUR ARIFIN  (H411 10 101)
NUR QALBI (H411 10 260 )
RR. DYAH RORO ARIWULAN (H411 10 272 )
FATAHILLAH (H411 10 902)

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2012

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar