Senin, 07 Januari 2013

Mikroteknik Tumbuhan; Laporan Praktikum Pembuatan preparat pollen


LAPORAN PRAKTIKUM

MIKROTEKNIK TUMBUHAN

 

PERCOBAAN II

PEMBUATAN PREPARAT POLLEN DENGAN METODE ASETOLISIS

NAMA                                : RR. DYAH RORO ARIWULAN
NIM                                     : H411 10 272

KELOMPOK                    : III (TIGA)

ASISTEN                            : WITRI YULIANA
HARI/ TANGGAL                        : RABU/ 26 SEPTEMBER 2012




UNHAS
 












LABORATORIUM BOTANI JURUSAN BIOLOGI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2012

BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang
Tanaman berkembang biak secara alami melalui berbagai macam cara. Tanaman berkembang biak secara alami dengan 2 cara yaitu generatif dan vegetatif. Generatif adalah bahwa tanaman tersebut berkembang biak secara kawin, yaitu bertemunya sel jantan yang terdapat pada benang sari dan sel betina yang terdapat pada putik. Bertemunya 2 sel ini nantinya akan menghasilkan buah yang berbiji 2 yaitu dikotil. Tanaman yang dikembangbiakkan melalui cara ini biasanya memiliki sifat genetis yang berbeda dari tanaman induk dan biasanya mengalami kemunduran (Anonim, 2009).
Pada tumbuhan berbiji alat perkembangbiakan generatifnya dikenal sebagai bunga. Dimana pada bunga terdapat daun-daun yang telah berubah bentuk dan fungsinya, daun  bunga demikian lazim disebut stamen yang merupakan alat kelamin jantan dalam unit bunga tersebut. Stamen berfungsi menghasilkan serbuk sari atau pollen. Serbuk sari sangat penting dalam proses persarian ataupun pembuahan (Hidayat, 1995).
Pollen atau serbuk sari mempunyai perbedaan bentuk butir sari, besar/volume, serta warna butir sarinya. Banyaknya serbuk sari sangat berkaitan dengan ukuran sel, dengan demikian jumlah serbuk sari pada setiap anthera adalah tidak terhingga jumlahnya. Serbuk sari pada umumnya memiliki ukuran yang sangat kecil sehingga tidak memungkinkan untuk dapat dilihat jika hanya dengan menggunakan mata telanjang dan tanpa dilakukan perlakuan-perlakuan yang khusus. Namun dalam perlakuan terhadap serbuk sari ini haruslah dengan menggunakan metode tertentu sehingga serbuk sari yang sangat kecil tidak ikut terbuang pada saat dilakukan pemfiksasian maupun pencucian dengan aquades. Untuk itu, maka perlu dipahami cara-cara dan teknik pembuatan dan penyiapan preparat pollen ini. Untuk mengetahui bagian-bagian serta macam-macam bentuk pollen maka dilakukanlah percobaan kali ini.

I.2 Tujuan Percobaan
Tujuan dari dilakukannya percobaan ini adalah untuk mengamati dan melihat preparat pollen dari bunga kembang sepatu Hibiscus rosa-sinensis dengan menggunakan metode asetolisis.

I.3 Waktu dan Tempat
Percobaan  ini dilaksanakan pada hari Selasa, 25 September 2012 untuk proses fiksasi dan pada hari Rabu,  26 September 2012, pada pukul 11.40 – 14.30 WITA, bertempat di Laboratorium Botani, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Hasanuddin, Makassar.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Mikroteknik atau teknik histologi ini akan dipelajari ilmu atau seni untuk mempersiapkan organ, jaringan atau bagian yang lainnya untuk dapat diamati dan dipelajari dengan lebih teliti. Pada umumnya untuk melihat jaringan atau organ ini dilakukan dengan bantuan mikroskop, karena struktur jaringan secara terperinci pada dasarnya terlalu kecil untuk dapat dilihat dengan mata telanjang. Suatu spesimen mikroteknik dapat merupakan sebagian ataupun keseluruhan dari struktur yang ditetapkan. Selain diletakkan pada kaca preparat, spesimen tadi umumnya dilindungi dengan kaca penutup, yaitu sepotong kaca yang sangat tipis ataupun plastik yang tembus pandangan yang direkatkan di atas spesimen  (Sugiharto, 1989).
Perkembangbiakan pada tumbuhan biji terletak pada bunga. Bunga merupakan alat perkembangbiakan generatif pada tumbuhan biji. Bunga mempunyai dua bagian utama, yaitu perhiasan bunga dan alat kelamin bunga. Perhiasan bunga terdiri atas kelopak dan mahkota. Alat kelamin bunga terdiri atas putik dan benang sari (Nugroho, 2006).
Kepala sari adalah adalah bagian dari benang sari yang terletak pada ujung tangkai sari, merupakan suatu badan yang bentuknya bermacam-macam : bulat, lonjong, jorong, bulat telur, bangun kerinjal dan lain-lain. Didalamnya terdapat dua ruang sari (theca). Tetapi pada dasarnya dapat pula hanya satu atau lebih ruang sari. Satu ruang sari biasanya terdiri atas dua kantong sari (locullumenntum), tetapi sekat yang memisahkan kedua kantong sari itu akhirnya menjadi satu ruang sari saja (Tjitrosoepomo, 2001).
Penampang melintang kepala sari yang muda tiap kantong sari terdapat sel pembentuk serbuk sari yang terbungkus oleh dinding sari yang terdiri atas empat lapis yaitu : kulit luar (epidermis), lapisan serabut (endotesium), lapisan anthera dan lapisan dalam (tapetum) (Hidayat, 1995).
            Ruang sari merupakan tempat terbentuknya serbuk sari atau tepung sari (pollen). Setelah terjadinya persarian (serbuk sari jatuh pada kepala putik) maka, serbuk sari itu akan tumbuh merupakan suatu buluh menuju ke bakal biji, hingga inti sperma yang terdapat di dalam kandung lembaga. Peleburan inti sperma dengan sel telur itulah yang dinamakan pembuahan (Tjitrosoepomo, 2001).
Serbuk sari merupakan badan yang amat lembut, jika terpisah-pisah mudah sekali berterbangan karena tiupan angin serta ada pula yang bergumpal-gumpal. Jika setiap gumpalan terdiri atas 4 serbuk sari lazimnya dinamakan pollen tetrade, tetapi ada pula yang tiap gumpalannya itu terdiri dari sejumlah besar serbuk sari yang disebut pollinium seperti pada bunga anggrek (Tjitrosoepomo, 2001).
Butir pollen yang masak dikelilingi oleh dinding sari pektuselulosa yang tipis yakni intin. Di luar intin terdapat lapisan lain yang disebut eksin. Komponen utama eksin disebut sporopolenin. Suatu substansi yang keras yang memberikan daya tahan yang hebat kepada butir pollen. Sifat kimia dari sporopolenin belum jelas, namun telah dikemukakan bahwa zat kimia itu polimer-polimer oksidatif dari karetenoid atau ester-ester karetenoid (Tjitrosoepomo, 2001).
Eksin biasanya terdiri atas bagian luar yang terukir yang disebut seksin dan bagian dalamnya disebut neksin. Neksin yang benar-benar menutupi intin biasanya membentuk suatu lapisan yang tipis. Ukuran seksin diakibatkan karena adanya tangkai-tangkai yang membesar tersusun radial disebut bakula dimana kepalanya membesar. Bakula tersebut beragam ukurannya dan dapat terpisah atau dalam kelompok-kelompok. Pada banyak genera kepala bakula melebur membentuk tektum yang dapat pula dilubangi atau diukir dengan cara-cara yang spesifik. Pembentukan dari kantung udara seperti yang terdapat pada pinus akibat terpisahnya seksin dan neksin (Tjitrosoepomo, 2001).
Metode yang biasa digunakan dalam mengamati preparat pollen ialah dengan metode asetolisis. Asetolisis adalah salah satu metode pembuatan preparat serbuk sari yang menggunakan prinsip melisiskan dinding sel serbuk sari dengan asam asetat glasial serta asam sulfat pekat sebagai bahan tambahan. Hal ini bertujuan untuk mendapatkan hasil amatan morfologi dinding serbuk sari ornamentasi dari serbuk sari tersebut. Serbuk sari yang digunakan dalam pembuatan preparat haruslah merupakan serbuk sari yang matang. Serbuk sari yang matang dapat ditandai dengan sudah tidak ada air dalam serbuk sari tersebut, jika serbuk sari dipatahkan maka hanya akan seperti tepung saja (Anonim, 2009).
Langkah-langkah dari proses asetolisis ini antara lain adalah fiksasi, pemanasan, pencucian, pewarnaan (staining), penutupan (mounting), dan labelling. Berikut langkah-langkah pada metode asetolisis (Hayati, 2010):
1.      Tahap fiksasi
Fiksasi adalah suatu usaha untuk mempertahankan elemen-elemen sel atau jaringan, dalam hal ini serbuk sari agar tetap pada tempatnya, dan tidak mengalami perubahan bentuk maupun ukuran dengan media kimia sebagai fiksatif. Selain itu fiksasi juga mencegah terjadinya kerusakan jaringan yang disebabkan oleh jenis enzim yang terkandung di dalam jaringan itu sendiri, yang dikenal dengan autolisis.
Ada dua macam fiksatif, yaitu fiksatif sederhana dan majemuk atau campuran. Fiksatif sederhana merupakan larutan yang di dalamnya hanya mengandung satu macam zat saja, sedangkan fiksatif majemuk atau campuran adalah larutan yang di dalamnya mengandung lebih adri satu macam zat. Fiksatif yang biasanya digunakan serbuk sari dalam pembuatan preparat pollen ada satu bahan utama yaitu asam asetat glasial dan satu bahan tambahan, yaitu H2SO4 pekat. Setelah serbuk sari dimasukkan dalam asam asetat glasial, selanjutnya fiksatif dibiarkan 24 jam di dalam suhu ruang.
Pollen kemudian disentrifuse dengan kecepatan 2000 rpm selama 10 menit. Tujuan dari sentrifuse ini adalah memisahkan serbuk sari dan asam asetat glasial, karena serbuk sari berukuran kecil dan bercampur dengan asam asetat glasial sehingga serbuk sari susah untuk diambil, maka diperlukan sentrifuse.
  1. Tahap pemanasan
Setelah sentrifuse, pollen ditambahkan larutan campuran antara H2SO4 pekat dan asam asetat glasial dengan perbandingan 1 : 9 pada tabung sentrifus yang berisi endapan serbuk sari. Penambahan larutan kemudian diikuti dengan pemanasan campuran larutan tersebut di dalam penangas air di atas lampu spiritus. Pemanasan ini dilakukan hingga air dalam penangas mendidih.
Setelah pemanasan dalam waterbath selesai, serbuk sari dalam larutan akan berubah warna menjadi agak kecoklatan. Serbuk sari dan larutan yang dipanaskan ini kemudian didinginkan sejenak. Setelah dingin, langkah selanjutnya adalah melakukan sentrifuse untuk mendapatkan serbuk sari yang telah terasetolisis, memisahkannya dari larutan asam asetat glasial dan H2SO4 pekat. Sentrifuse dilakukan selama 10 menit dan dengan kecepatan 2000 rpm.
  1. Tahap pencucian
Langkah selanjutnya adalah pencucian serbuk sari dengan aquades sebanyak dua kali. Pencucian dilakukan dengan penambahan aquades ke dalam tabung sentrifus yang berisi serbuk sari kemudian melakukan sentrifuse untuk mendapatkan serbuk sari yang sudah bersih. Perlakuan tersebut dilakukan dua kali untuk mendapatkan serbuk sari yang bersih tanpa ada sisa zat kimia seperti fiksatif dalam serbuk sari yang akan dibuat preparat.
  1. Tahap pewarnaan (staining)
Pewarnaan (staining) dengan menggunakan safranin 1 %. Tujuan utama dari pewarnaan adalah untuk meningkatkan kontras warna serbuk sari dengan sekitarnya sehingga memudahkan dalam pengamatan serbuk sari dari bawah mikroskop. Pewarnaan dapat memperjelas bentuk ornamen dinding sel serbuk sari serta mempermudah mengetahui ukuran serbuk sari.
Setelah pewarnaan serbuk sari, kemudian dilakukan sentrifuse kembali yang ditujukan untuk mendapatkan serbuk sari yang terwarnai dengan memisahkannya dengan larutan safranin dan aquades. sentrifuse dilakukan selama 10 menit dan dengan kecepatan 2000 rpm. Hasil dari sentrifuse adalah supernatan berupa larutan safranin dan aquades yang selanjutnya dibuang dan endapan berupa serbuk sari di dasar tabung yang selanjutnya digunakan untuk pembuatan preparat serbuk sari.
  1. Tahap penutupan (mounting)
Mounting atau penutupan ini merupakan langkah penting dalam pembuatan preparat, dimana serbuk sari diambil dari dasar tabung sentrifuse kemudian diletakkan pada salah satu sisi objek gelas. Kemudian, di masing-masing sisi dari serbuk sari yang diletakkan ini disusun empat potongan kecil parafin. Selanjutnya di atas serbuk sari diletakkan potongan lembaran gliserin jeli. Susunan tersebut perlu dipertimbangkan peletakannya agar dapat dihasilkan preparat yang rapi dan proporsional. Setelah penyusunan gliserin jeli, parafin, dan serbuk sari selesai, langkah berikutnya dalam mounting adalah penutupan susunan tersebut dengan dek gelas.
Setelah dek gelas diletakkan secara benar di atas susunan tersebut, maka dilakukan pemanasan. Pemanasan ditujukan untuk mencairkan parafin dan gliserin jeli agar dapat menutup serbuk sari, sehingga dihasilkanlah preparat serbuk sari yang tahan dalam selang beberapa waktu. Dalam penentuan medium yang digunakan dalam mounting preparat serbuk sari ini, harus dipilih yang indeks refraksinya berbeda dari indeks refraksi serbuk sari (1,55-1,60). Gliserin memiliki indeks refraksi 1,4, dan baik digunakan untuk preparat semi permanen.
  1. Tahap labelling
Labelling merupakan tindakan pelabelan preparat. Preparat diberikan label dengan kertas label bertuliskan nama preparat.

BAB III
METODE PERCOBAAN

III.1 Alat
Alat-alat yang digunakan pada percobaan ini adalah pipet tetes, botol sampel, objek gelas, dek gelas, sentrifuse, waterbath, pinset, bunsen, gegep, mikroskop, tabung cuvet dan tabung reaksi.

III.2 Bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah serbuk sari kembang sepatu Hibiscus rosa-sinensis, aquades, H2SO4 pekat, asam asetat glasial, parafin, label, gliserin dan methylene blue.

III.3 Cara Kerja
            Cara kerja dari percobaan ini adalah:
1.      Menyediakan semua alat-alat yang akan digunakan di laboratorium dan membuat larutan-larutan yang diperlukan.
2.        Melakukan fiksasi dengan merendam serbuk sari dengan menggunakan asam asetat glasial sebanyak beberapa tetes pada botol sampel selama 24 jam.
3.        Setelah 24 jam, rendaman pollen dipindahkan ke tabung cuvet kemudian mensentrifuse serbuk sari selama 10 menit dengan kecepatan 2000 rpm.
4.        Melakukan pemanasan dengan menggunakan asam sulfat (H2SO4) pekat dengan asam asetat glasial dengan perbandingan 1 : 9, diamkan 2 menit.
5.        Kemudian memanaskan pollen ke dalam water bath hingga mendidih selama 5 menit selanjutnya mensentrifuse selama 10 menit dengan kecepatan 2000 rpm.
6.        Melakukan pencucian sebanyak 2x dengan menggunakan aquades 5 ml kemudian disentrifuse selama 10 menit dengan kecepatan 2000 rpm.
7.        Melakukan pewarnaan dengan menggunakan methylene blue dan aquades, kemudian disentrifuse selama 10 menit dengan kecepatan 2000 rpm.
8.        Melakukan penutupan yaitu mengambil serbuk sari dengan menggunakan pinset, kemudian meletakkan serbuk sari pada preparat.
9.        Menaruh potongan parafin kecil pada tiap sudut objek gelas serta meneteskan gliserin di atas pollen kemudian melidahapikan preparat diatas bunsen agar parafin mencair.
10.    Memberi label pada preparat.
11.    Melakukan pengamatan dibawah mikroskop untuk melihat bagian – bagian pollen.
.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.1 Hasil
IV.1.1 Skema Kerja
       Fiksasi                             Asam asetat glasial , selama 24 jam.
Sentrifuse, kecepatan 2000 rpm, selama 10  menit
                                        
                                        

     Asetolisis                         H2SO4  pekat + asam asetat glasial , selama 2 menit
                                                          1          :          9
    Pemanasan                        Water bath, selama 5 menit
Sentrifuse, kecepatan 2000 rpm, selama 10 menit


    Pencucian                          Aquades 5 ml, sebanyak 2 kali
Sentrifuse, kecepatan 2000 rpm, selama 10 menit


   Pewarnaan                         Methylene blue + aquades
Sentrifuse, kecepatan 2000 rpm, selama 10 menit
    Penutupan                        Objek gelas, pollen, gliserin, paraffin dan dek gelas


    Labelling                          Kertas label

  Pengamatan                       Mikroskop

1
IV.1.2  Gambar Preparat
3
2
4
 
7
6
5
Keterangan:

  1. objek gelas
  2. Kepala sari (anthera)
  3. Dek gelas
  4. Label
  5. Eksin (lapisan luar)
  6. duri     
  7. Intin (lapisan dalam)


IV.2  Pembahasan
Percobaan kali ini kami membuat dan mengamati preparat serbuk sari dari bunga kembang sepatu Hibiscus rosa-sinensis dengan menggunakan metode asetolisis. Bagian serbuk sari bunga kembang sepatu Hibiscus rosa-sinensis diambil, kemudian  direndam ke dalam larutan fiksatif yaitu asam asetat glasial selama 24 jam.  Perendaman dengan asam aseta glasial bertujuan untuk melunakkan sel.
Setelah fiksasi minimal 24 jam, selanjutnya serbuk sari disentrifuse dengan kecepatan 2000 rpm selama 10 menit. Tujuan dari sentrifus ini adalah memisahkan serbuk sari dan asam asetat glasial, karena serbuk sari berukuran kecil dan bercampur dengan asam asetat glasial sehingga serbuk sari susah untuk diambil, maka diperlukan sentrifus. Dari hasil sentrifus ini akan terbentuk supernatan asam asetat dan endapan serbuk sari. Asam asetat kemudian dibuang, sehingga didapatkan serbuk sari yang mengendap di dasar tabung cuvet saja.
Pollen kemudian direndam dalam larutan campuran H2SO4 pekat dan asam asetat glasial dengan perbandingan 1 : 9 pada tabung cuvet yang berisi endapan serbuk sari. Penambahan larutan diikuti dengan pemanasan campuran larutan tersebut di dalam waterbath. Pemanasan ini dilakukan hingga air dalam penangas mendidih. Pemanasan larutan ini bertujuan untuk mempercepat terjadinya reaksi yang terjadi pada serbuk sari. Sedangkan penambahan H2SO4 dan asam asetat glasial dengan perbandingan 1:9 ini berfungsi untuk untuk melisiskan selulosa pada dinding serbuk sari (asetolisis), sehingga setelah dibuat preparat, morfologi eksin serbuk sari akan terlihat lebih jelas dibandingkan dengan sebelum asetolisis. Selain itu, asetolisis ini juga berfungsi seperti proses fiksasi, yaitu memelihara atau mempertahankan struktur dari serbuk sari.
Serbuk sari dalam larutan akan berubah warna menjadi agak kecoklatan setelah pemanasan. Serbuk sari dan larutan yang dipanaskan ini kemudian didinginkan sejenak. Setelah dingin, serbuk sari kembali disentrifuse selama 10 menit dan dengan kecepatan 2000 rpm untuk mendapatkan serbuk sari yang telah terasetolisis, memisahkannya dari larutan asam asetat glasial dan H2SO4 pekat. Hasil dari sentrifuse ini adalah supernatan di bagian atas tabung cuvet, yaitu larutan asam asetat glasial dan asam sulfat pekat serta endapan di dasar tabung, yaitu serbuk sari yang telah terasetolisis. Supernatan kemudian dibuang secara hati-hati agar serbuk sari yang sudah mengendap tidak menyebar kembali kedalam larutan dan ikut terbuang.
Serbuk sari lalu dicuci dengan aquades sebanyak dua kali. Pencucian dilakukan dengan penambahan aquades ke dalam tabung cuvet yang berisi serbuk sari kemudian melakukan sentrifuse untuk mendapatkan serbuk sari yang sudah bersih. Perlakuan tersebut dilakukan dua kali untuk mendapatkan serbuk sari yang bersih tanpa ada sisa zat kimia seperti fiksatif dalam serbuk sari yang akan dibuat preparat.
Setelah pencucian, serbuk sari kemudian diwarnai dengan menggunakan methylene blue. Tujuan utama dari pewarnaan adalah untuk meningkatkan kontras warna serbuk sari dengan sekitarnya sehingga memudahkan dalam pengamatan serbuk sari dari bawah mikroskop. Pewarnaan dapat memperjelas bentuk ornamen dinding sel serbuk sari serta mempermudah mengetahui ukuran serbuk sari. Dalam proses pewarnaan, methylene blue dilarutkan dalam sedikit aquades, hal ini masih dilakukan dalam tabung cuvet. Setelah pewarnaan serbuk sari, kemudian dilakukan sentrifuse kembali yang ditujukan untuk mendapatkan serbuk sari yang terwarnai dengan memisahkannya dengan larutan pewarna dan aquades. Sentrifuse dilakukan selama 10 menit dan dengan kecepatan 2000 rpm. Hasil dari sentriufuse adalah supernatan berupa larutan pewarna dan aquadest yang selanjutnya dibuang dan endapan berupa serbuk sari di dasar tabung yang selanjutnya digunakan untuk pembuatan preparat serbuk sari.
Langkah selanjutnya setelah pewarnaan adalah mounting. Serbuk sari diambil dari dasar tabung cuvet kemudian diletakkan pada salah satu sisi objek gelas. Kemudian, di masing-masing sisi dari serbuk sari yang diletakkan empat potongan kecil parafin. Selanjutnya di atas serbuk sari ditetesi gliserin lalu ditutupi dengan dek gelas di atas gliserin dan parafin, kemudian dilidahapikan diatas bunsen. Pemanasan ditujukan untuk mencairkan parafin dan gliserin agar dapat menutup serbuk sari, sehingga menghasilkan preparat serbuk sari yang tahan dalam selang beberapa waktu. Pemanasan ini dilakukan secara hati-hati dan tidak boleh terlalu lama agar diperoleh preparat yang baik, karena kalau terlalu lama saat pemanasan, akan timbul gelembung dalam preparat akibat dari mendidihnya gliserin di atas api. Hal ini akan mengganggu pengamatan serbuk sari dari preparat yang dihasilkan. Selanjutnya preparat kemudian diberi label menggunakan kertas label, kemudian diamati di bawah mikroskop.
Berdasarkan hasil pengamatan yang diperoleh, pollen bunga kembang sepatu Hibiscus rosasinensis berbentuk bulat dan dilengkapi spina atau duri-duri disekelilingnya. Dinding serbuk sari terdiri dari dua lapisan, yaitu eksin (lapisan luar)  tersusun atas sporopolenin, dan intin (lapisan dalam) yang tersusun atas selulosa.
Pollen terdiri atas ; 1. Intin, dari intin inilah dilepas enzim serta prekursor enzim pada apertura butir pollen. 2. Eksin, merupakan bagian paling luar yang berdiferensiasi menjadi neksin dan seksin. 3. Apertura merupakan tempat pertumbuhan serbuk sari pada masa perkecambahan. 4. Fillus merupakan rambut-ramput halus.
            Perbedaan antara pollen monokotil dan dikotil antara lain :
1. Butir pollen monokotil umumnya lonjong dibandingkan dikotil.
2. Pada monokotil butir pollen tetrad tunggal yang biasaanya tersusun dalam satu    bidang, sedangkan dikotil susunannya biasaanya tetrahedral.




BAB V
PENUTUP

V.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil percobaan dapat disimpulkan bahwa proses pembuatan preparat pollen dengan metode asetolisis yang sempurna terdiri dari proses fiksasi, asetolisis, pemanasan, pencucian, pewarnaan, penutupan dan labelling. Hasil pengamatan terlihat bentuk pollen dari bunga kembang sepatu Hibiscus rosa-sinensis adalah bulat dan bagian-bagiannya yaitu eksin (lapisan duri), intin (lapisan dalam) dan duri-duri.

V.2 Saran
Sebaiknya alat-alat dalam laboratorium lebih diperhatikan serta dalam kondisi bisa digunakan untuk menunjang jalannya proses praktikum yang dilakukan.


DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2009. Preparat Pollen dan Spora. http://t4q1y4.blog.com/. Diakses pada tanggal 27 September 2012, pukul 22.23 WITA.

Hidayat, B, Estiti, 1995. Anatomi dari Tumbuhan Berbiji. ITB. Bandung.

Nugroho, hartono dkk., 2006. Struktur dan Perkembangan Tumbuhan. Penebar Swadaya. Depok.

Hayati, Sativani, R, 2010. Pembuatan Preparat Serbuk Sari Belamcanda chinesis. http://oryza-sativa.blogspot.com/. Diakses pada tanggal 27 September 2012, pukul 22.20 WITA. 

Sugiharto, 1989. Mikroteknik. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat           Jendral Pendidikan Tinggi Pusat Antar Universitas Ilmu Hayat Institut              Pertanian Bogor. Bogor.

Tjitrosoepomo, gembong, 2001. Morfologi Tumbuhan. Gadjah Mada University     Press. Jogjakarta.




LAMPIRAN

Pengenceran Alkohol
Ø  Pengenceran 90%
   M1 V1  =  M2 V2
96  .  V1 = 90  .  100
                 V1    =   93,75
  100   93,75  =  6,25 ml
Jadi, alkohol  = 93,75 ml dan aquades = 6,25 ml.
Ø  Pengenceran 80%
  M1V1 = M2V2
       93,75 . V1  =  80 . 100
                  V1  =  85,33
  100 – 85,33   =   14,67 ml
Jadi, alkohol  = 85,33 ml dan aquades = 14,67 ml.
Ø  Pengenceran 70%
M1V1 = M2V2
       85,33.V1 = 70.100
                 V1 = 82,03
  100 – 82,03 = 17,97 ml
Jadi, alkohol  = 82,03 ml dan aquades = 17,97 ml.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar