Selasa, 24 September 2013

Toksikologi; Makalah Zat Toksik Timbal dan proses ADME



BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang
Lingkungan merupakan tempat hidup makhluk hidup. Kualitas lingkungan sangat mempengaruhi kondisi makhluk hidup, terutama manusia. Bila interksi antara manusia dengan lingkungan berada dalam keadaan seimbang, maka kondisinya akan berada dalam keadaan sehat. Tetapi karena sesuatu sebab yang mengganggu keseimbangan lingkungan ini, maka akan menimbulkan dampak yang merugikan bagi kesehatan (Pallar, 1994).
          Zat atau senyawa hasil kegiatan industri (limbah) biasanya berbahaya dan mempunyai sifat beracun (toksik). Keberadaan zat atau senyawa tersebut di lingkungan akan sangat membahayakan dan menurukan kualitas lingkungan (Darmono, 1995).
Risiko toksisitas berarti besarnya kemungkinan zat kimia untuk menimbulkan keracunan, hal ini tergantung dari besarnya dosis, konsentrasi, lamanya dan seringnya pemaparan, juga cara masuk dalam tubuh 12 , dan gejala keracunan antara lain disebabkan oleh adanya pencemaran atau polusi Pencemaran atau polusi adalah keadaan yang berubah menjadi lebih buruk, keadaan yang berubah karena akibat masukan dari bahan- bahan pencemar . Bahan pencemar umumnya mempunyai sifat racun (toksik) yang berbahaya bagi organism hidup. Toksisitas atau daya racun dari polutan itulah yang kemudian menjadi pemicu terjadinya pencemaran (wardhayani, 2006).
Bapak Toksikologi Modern, Paracelsus (1493-1541) menyatakan bahwa "semua zat adalah racun; tidak ada yang bukan racun. Dosis yang tepat membedakan suatu racun dengan obat". Toksikan (zat toksik) adalah bahan apapun yang dapat memberikan efek yang berlawanan (merugikan). Racun merupakan istilah untuk toksikan yang dalam jumlah sedikit (dosis rendah) dapat menyebabkan kematian atau penyakit (efek merugikan) yang secara tiba-tiba. Zat toksik dapat berada dalam bentuk fisik (seperti radiasi), kimiawi (seperti arsen, sianida) maupun biologis (bisa ular). Juga terdapat dalam beragam wujud (cair, padat, gas). Beberapa zat toksik mudah diidentifikasi dari gejala yang ditimbulkannya, dan banyak zat toksik cenderung menyamarkan diri (Budiman, 2008).
Sulit untuk mengkategorisasi suatu bahan kimia sebagai aman atau beracun. Tidak mudah untuk membedakan apakah suatu zat beracun atau tidak. Prinsip kunci dalam toksikologi ialah hubungan dosis-respon/Efek. Kontak zat toksik (paparan) terhadap organisme/tubuh dapat melalui jalur tertelan (ingesti), terhirup (inhalasi) atau terabsorpsi melalui kulit. Zat toksik umumnya memasuki organisme/tubuh dalam dosis tunggal dan besar (akut), atau dosis rendah namun terakumulasi hingga jangka waktu tertentu (kronis) (Budiman, 2008).
I.2 Tujuan
            Tujuan dari pembuatan maklah ini ialah untuk mengetahui salah satu zat toksik atau toksikan yaitu timbal (pb) serta cara metabolime timbal dalam tubuh manusia melaui proses adsorbsi, distribusi, metabolisme dan ekskresi.






BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Timbal atau dalam keseharian lebih dikenal dengan nama timah hitam. Dalam bahasa ilmiahnya dinamakan Plumbum, dan logam ini disimbolkan dengan Pb. Logam ini termasuk kedalam kelompok logam-logam golongan IV-A pada tabel periodik unsur kimia. Mempunyai unsur atom (NA)82 dengan bobot atau berat atom (BA)207,2 (Anonim a, 2013).
Timbal merupakan bahan alami yang terdapat dalam kerak bumi. Timbal (Pb) dimanfaatkan manusia untuk bahan pembuat baterai, membuat amunisi, produk logam (logam lembaran, solder, dan pipa), perlengkapan medis (penangkal radiasi dan alat bedah), cat, keramik, peralatan kegiatan ilmiah/praktek (papan sirkuit (CB) untuk computer) untuk campuran minyak bahan-bakar untuk meningkatkan nilai oktan (Wardhayani, 2006)
 Berikut merupakan ciri-ciri dari timbal ialah ( Anonim a, 2013):
a.       Merupakan logam yang lunak, sehingga dapat dipotong dengan menggunakan pisau atau tangan dan dapat dibentuk dengan mudah.
b.      bersifat anorganik dan umumnya dalam bentuk garam anorganik yang umumnya kurang larut dalam air
c.       Tahan terhadap korosi atau karat, sehingga logam timbal sering digunakan sebagai coating
d.      Titik lebur rendah, hanya 327,5 derajat C.
e.        Merupakan penghantar listrik yang tidak baik.
f.       Mempunyai kerapatan yang lebih besar dibandingkan dengan logam-logam biasa, kecuali emas dan mercuri
g.      tidak mengalami degradasi (penguraian) dan tidak dapat dihancurkan
h.      tidak mengalami penguapan namun dapat ditemukan di udara sebagai partikel
Timbal (Pb) merupakan mineral yang tergolong mikroelemen, merupakan logam berat dan berpotensi menjadi bahan toksik. Jika terakumulatif dalam tubuh, maka berpotensi menjadi bahan toksik pada mahluk hidup. Masuknya unsur timbale (Pb) ke dalam tubuh mahluk hidup dapat melalui saluran pencernaan (gastrointestinal), saluran pernafasan (inhalasi), dan penetrasi melalui kulit (topikal) (Wardhayani, 2006).
Efek Pb terhadap kesehatan terutama terhadap sistem haemotopoetic (sistem pembentukan darah), adalah menghambat sintesis hemoglobin dan memperpendek umur sel darah merah sehingga akan menyebabkan anemia. Pb juga menyebabkan gangguan metabolisme Fe dan sintesis globin dalam sel darah merah dan menghambat aktivitas berbagai enzim yang diperlukan untuk sintesis heme (Anonim a, 2013).
Anak yang terpapar Pb akan mengalami degradasi kecerdasan alias idiot. Pada orang dewasa Pb mengurangi kesuburan, bahkan menyebabkan kemandulan atau keguguran pada wanita hamil, kalaupun tidak keguguran, sel otak tidak bisa berkembang. Dampak Pb pada ibu hamil selain berpengaruh pada ibu juga pada embrio/ janin yang dikandungnya. Selain penyakit yang diderita ibu sangat menentukan kualitas janin dan bayi yang akan dilahirkan juga bahan kimia atau obat-obatan, misalnya keracunan Pb organik dapat meningkatkan angka keguguran, kelahiran mati atau kelahiran premature (Anonim a, 2013).
Timbal (Plumbum) beracun baik dalam bentuk logam  maupun garamnya. Garamnya yang beracun adalah : timbal karbonat ( timbal putih ); timbal tetraoksida ( timbal merah );  timbal  monoksida;  timbal  sulfida;   timbal  asetat ( merupakan penyebab keracunan yang paling sering terjadi ). Ada beberapa bentuk keracunan timbal, yaitu  keracunan akut, subakut dan kronis.  Nilai   ambang  toksisitas  timbal (  total limit values atau TLV ) adalah  0,2  miligram/m3. Berikut tipe keracunan timbal yang terjadi ialah (Anonim b, 2013):
a.      Keracunan akut
Keracunan timbal akut jarang terjadi.  Keracunan timbal akut secara tidak sengaja yang pernah terjadi adalah karena timbal asetat. Gejala keracunan akut mulai timbul 30 menit setelah meminum racun. Berat ringannya gejala yang timbul tergantung pada dosisnya. Keracunan biasanya terjadi karena masuknya senyawa timbal yang larut dalam asam atau inhalasi uap timbal. Efek adstringen menimbulkan rasa haus dan rasa logam disertai rasa terbakar pada mulut.  Gejala lain yang sering muncul ialah mual, muntah dengan muntahan yang berwarna putih seperti susu karena Pb Chlorida dan rasa sakit perut yang hebat. Lidah berlapis dan nafas mengeluarkan bau yang menyengat.  Pada gusi terdapat garis biru yang merupakan hasil dekomposisi protein karena bereaksi dengan gas Hidrogn Sulfida.  Tinja penderita berwarna hitam karena mengandung Pb Sulfida, dapat disertai diare atau konstipasi.  Sistem syaraf pusat juga dipengaruhi, dapat ditemukan gejala ringan berupa kebas dan vertigo.   Gejala  yang berat mencakup paralisis beberapa kelompok otot sehingga menyebabkan pergelangan  tangan  terkulai ( wrist drop ) dan  pergelangan kaki terkulai (foot drop).
b.      Keracunan  subakut
            Keracunan sub akut terjadi bila seseorang berulang kali terpapar racun dalam dosis kecil, misalnya timbal asetat  yang menyebabkan  gejala-gejala pada sistem syaraf yang lebih menonjol, seperti  rasa kebas, kaku otot, vertigo dan paralisis flaksid pada tungkai. Keadaan ini kemudian akan diikuti dengan kejang-kejang dan koma.  Gejala umum meliputi penampilan yang gelisah, lemas dan depresi. Penderita sering mengalami gangguan sistem pencernaan,  pengeluaran urin sangat sedikit, berwarna merah.  Dosis fatal  :  20 - 30 gram.  Periode fatal :  1-3 hari.
c.       Keracunan kronis
Keracunan timbal dalam bentuk kronis lebih sering terjadi dibandingkan  keracunan akut. Keracunan timbal kronis lebih sering dialami para pekerja yang terpapar timbal dalam bentuk garam pada berbagai industri, karena itu keracunan ini dianggap sebagai penyakit industri.  seperti  penyusun huruf pada percetakan, pengatur komposisi media cetak, pembuat huruf mesin cetak,  pabrik cat yang menggunakan timbal, petugas pemasang pipa gas. Bahaya dan resiko pekerjaan itu ditandai dengan TLV 0,15 mikrogram/m3, atau 0,007 mikrogram/m3 bila sebagai aerosol. Keracunan kronis juga dapat terjadi pada   orang yang minum air yang dialirkan melalui pipa timbal, juga pada orang yang mempunyai kebiasaan menyimpan Ghee (sejenis makanan di India) dalam bungkusan timbal.  Keracunan kronis dapat mempengaruhi system syaraf dan ginjal, sehingga menyebabkan anemia dan kolik, mempengaruhi fertilitas, menghambat pertumbuhan janin atau memberikan efek kumulatif yang dapat muncul kemudian.  

Proses Masuknya Timbal (pb) dalam Tubuh Manusia
Dalam menentukan jenis zat toksik yang menyebabkan keracunan, seringkali menjadi rumit karena adanya proses yang secara alamiah terjadi dalam tubuh manusia. Jarang sekali suatu bahan kimia bertahan dalam bentuk asalnya didalam tubuh. Bahan kimia, ketika memasuki tubuh akan mengalami proses ADME, yaitu absorpsi, distribusi, metabolisme dan ekskresi. Misalnya, setelah memasuki tubuh, heroin dengan segera termetabolisme menjadi senyawa lain dan akhirnya menjadi morfin, menjadikan investigasi yang lebih detil perlu dilakukan seperti jenis biomarker (petanda biologik) zat racun tersebut, jalur paparan zat, letak jejak injeksi zat pada kulit dan kemurnian zat
tersebut untuk mengkonfirmasi hasil diagnosa. Zat toksik juga kemungkinan dapat mengalami pengenceran dengan adanya proses penyebaran ke seluruh tubuh sehingga sulit untuk terdeteksi. Walaupun zat racun yang masuk dalam ukuran gram atau miligram, sampel yang diinvestigasi dapat mengandung zat racun atau biomarkernya dalam ukuran mikrogram atau nanogram, bahkan hingga pikogram (Budiawan, 2008) .
Pada dasarnya disposisi senyawa toksik meliputi beberapa fase di antaranya absorbsi, distribusi, metabolisme, dan eliminasi (Maharani, 2013):
a.      Absorbsi
            Absorbsi senyawa toksik sama dengan absorbsi dengan senyawa obat dalam hal ini absorbsinya sangat bergantung terhadap membran sel. Agar mampu dilalui oleh suatu senyawa maka suatu membran haruslah bersifat semi permeabel. Sebagaimana kita ketahui membran sel bersifat lipid bilayer, yakni terdiri atas lapisan fosfolipid dan bagian yang bersifat lifofobik. Pada bagian fosfolipid tersebut terdapat protein yang tertanam diantara lapisan-lapisan lipid ini, tentu saja protein ini memiliki fungsi tersendiri yang akan dibahas kemudian. Seanyawa yang mudah larut dalam lemak akan snagat mudah melewati lapisan ini dibandingkan dengan senyawa sifatnya mudah larut dalam air. Kelarutan suatu senyawa dipengaruhi pula dengan koefissien partisi dari senyawa tersebut. Koefisien partisi dalam hal ini diartikan sebagai perbandingan kelarutan suatu zat dalam air dan dalam pelarut organik.
            Pengangkutan senyawa dalam melintasi membran  dapat dibagi dengan beberapa cara diantaranya:
1.  Filtarsi melalui pori-pori
Senyawa dengan molekul kecil mungkin melewati membran sel dengan melalui protein yang ada pada membran. Perpindahan ini akan menurunkan gradient konsentrasi dan substansi-substansi seperti urea dan etanol.
2.  Difusi passive melaui membran fosfolipid
Proses terjadinya diffusi pasif  harus melalui beberapa kondisi diantaranya:
·         Gradient konsentrasi harus mampu melewati membran
·         Senyawa harus larut dalam lipid
·         Senyawa bersifat non-ion
Difusi pasif tidak sama halnya dengan transpor aktif yang membutuhkan energi, yang dibutuhkan dalam difusi pasif hanyalah gradient konsentrasi, gradient konsentrasi harus melewati membran sel. Selain itu kelarutan senyawa dalam lipid juga mnejadi hal yang tidak kalah penting, sebagaimana diketahui bahwa membran sel terdiri atas membran lipid bilayer yang terdiri atas fosfolipid yang bersifat non-polar. Senyawa yang dapat melintasi lapisan lemak ini adalah senyawa yang sifatnya sama atau hampir sama dengan membran yakni bersifat nonpolar. Dan yang tidak kalah penting sifat dari senyawa tersebut apakah bersifat ion tau non ion. Senyawa yang mudah melintasi membran adalah senyawa yang bersifat non-ion karena senyawa yang bersifat non-ion molekulnya lebih kecil dibandingkan dengan senyawa ionik. Sebagaimana teori pH partision menjelaskan “hanya senyawa non-ionik yang larut lemak ynag mampu diabsorbsi oleh membran sel secara difusi pasif melalui penurunan radient konsentrasi”
3.  Transport aktif
Transport aktif sangat berbeda dengan difusi pasif, difusi pasif terjadi tanpa harus melawan gradient konsentrasi. Sedangkan transport aktif dapat terjadi dengan cara melawan gradient konsentrasi dan adanya energi yang diperoleh dari hasil metabolisme. Energi dibutuhkan untuk memompa natrium-kalium, masuk dan keluar dari sel. Proses ini tidak akan terjadi tanpa adanya protein sebagai perantara, ketika ada ATP atau energi maka pompa natrium akan terbuka dan ion Na akan masuk kedalam sel bersamaan dengan masuknya pula senyawa-senyawa lain dan dikeluarkannya kalium.  Jadi pada dasranya transport aktif ini sanagt dipengaruhi oleh beberapa hal diantaranya:
a.    Carrier spesifik dari membran
b.    Energi
c.    Proses yang mungkin dihambat dngan adanya metabolic racun
d.    Proses yang lebih mengikuti orde nol dibandingkan dengan orde satu
e.    Transport yang melawan gradient konsentrasi
f.     Substart yang sama kemungkinan akan berkompetisi
4.  Difusi terfasilitasi
Dalam difusi terfasilitasi faktor-faktor yang mempengaruhi adalah carrier spesifik dari membran, gardient konsentrasi yang melewati membran, dan proses yang mungkin jenuh karena tingginya konsentrasi dari sibstrat.
5.  Fagositosis dan pinositosis
Fagositosis adalah kemampuan suatu membran untuk memasukkan senyawa dari luar dengan cara membentuk semacam kantong kemudian melepaskannya kedalam sel. Yang membedakan antara fagositosis dan pinositosis hanyalah jenis zatnya, fagositosis biasanya berupa bahan padat sedangkan pinositosis berupa bahan cair.
Adapun proses absorbsi ini dapat berlangsung melalui kulit, paru-paru dan saluran pencernaan.
b.      Distribusi senyawa toksik
            Setelah terabsorbi senyawa kemudian akan didistribusikan ke jaringan tubuh, proses pendistribusian ini kembali lagi pada sifat fisiko-kimia dari sneyawa. Hanya bentuk yang tidak terionisasi yang akan melewati aliran darah dan masuk ke jaringan tubuh secara difusi pasif, sedangkan transport spesifik dibutuhkan untuk senyawa-senyawa tententu, dan adapun fagositosis dan pinositosis dibutuhkan untuk senyawa yang molekulnya besar. Parameter penting dari distribusi suatu senyawa kedalam jaringan tubuh adalah volume distribusi. Volume distribusi ini dapat menunjukkan keberadaan suatau senyawa di dalam jaringan, jadi apabila subtansi didistribusikan kedalam jaringan adiposa maka konsentrasi plasma akan menjadi rendah, akibatnya volume distribusi semakin besar.
            Selain volume distribusi, faktor-faktor yang mempengaruhi distribusi senyawa ke jaringan adalah waktu paruh. Waktu yang dibutuhkan oleh suatu bahan atau senyawa untuk meluruh setengahnya di dalam plasma. Senyawa yang memiliki waktu paruh panjang akan mengalami kontak dengan sistem biologi lebih lama akibatnya dibandingakan dengan senyawa yang waktu paruhnya pendek, akibatnya ada kemungkinan senyawa tersebut terakumulasi kembali.
            Aspek lain dari distribusi yang memungkinkan adanya implikasi toksikoligi adalah interaksi antara senyawa asing dengan protein plasma.  Banyak senyawa asing yang terikat dengan protein plasma nonkovalen, hal ini menyebabkan distribusi berubah. Distribusi ke jaringan akan berkurang karena adanya pengikatan dengan molekul plasma, dan dapat pula membatasi sistem ekskresi.
c.       Ekskresi Senyawa Toksik
            Eliminasi senyawa asing dari tubuh sangat penting bagi efek biologis, ekskresi yang cepat  dapat mengurangi tosisitas yang mungkin terjadi, dan mengurangi pula durasi efek terhadap sistem biologis.
1.  Ekskresi melalui urinaria
Ekskresi ini melalui organ ginjal, dimana sisa metabolisme dari senyawa asing akan dibawah ke ginjal kemudian diolah sedemikian rupa hingga akhirnya dikeluarkan melalui urin.
2.  Ekskresi melalui empedu
Ada beberapa kemungkinan yang dapat terjadi jika melalui ekskresi empedu yaitu: peningkatan waktu paruh senyawa, kemungkinan dihasilkan toksik metabolit pada saluran cerna, meningkatkan pengeluaran pada siklus enterohepatik, dan gangguan pada hati.
Jalur masuknya timbal (Pb) ke tubuh manusia melalui saluran pernapasan (respirasi), juga melalui saluran pencernaan (gastrointestinal), kemudian di distribusikan ke dalam darah, dan terikat pada sel darah. Sebagian Pb disimpan dalam jaringan lunak dan tulang, sebagian diekskresikan lewat kulit, ginjal dan usus besar, skematis dapat dilihat di bawah ini (Wardhayani, 2006):
Timbal (Pb) bersirkulasi dalam darah setelah diabsorbsi dari usus, terutama berhubungan dengan sel darah merah (eritrosit). Pertama didistribusikan kedalam jaringan lunak dan berinkorporasi dalam tulang, gigi, rambut untuk dideposit (storage).17,20 Timbal (Pb) 90 % dideposit dalam tulang dan sebagian kecil tersimpan dalam otak, pada tulang timbal (Pb) dalam bentuk Pb fosfat / Pb3(PO4)2. Secara teori selama timbal (Pb) terikat dalam tulang tidak akan menyebabkan gejala sakit pada penderita. Tetapi yang berbahaya ialah toksisitas Pb yang diakibatkan gangguan absorbsi Ca karena terjadi desorpsi Ca dari tulang yang menyebabkan penarikan deposit timbal (Pb) dari tulang tersebut (Wardhayani, 2006).
Timbal bersifat kumulatif. Dengan waktu paruh timbal dalam sel darah merah adalah 35 hari, dalam jaringan ginjal dan hati selama 40 hari, sedangkan dalam tulang selama 30 hari (Wikipedia, 2013).

Risiko Timbal (Pb) Pada Organ Tubuh
Timbal (Pb) adalah logam toksik yang bersifat komulatif sehingga mekanisme toksisitasnya dibedakan menurut organ yang dipengaruhi yaitu (Wardhayani, 2006):
1. Risiko timbal (Pb) pada sistem hemopoietik.
Timbal (Pb) mempengaruhi sistem darah dengan cara:
a.        memperlambat pematangan normal sel darah merah (eritrosit) dalam sumsum tulang yang menyebabkan terjadinya anemi.
b.      mempengaruhi kelangsungan hidup sel darah merah. Eritrosit yang diberi perlakuan dengan timbal (Pb), memperlihatkan peningkatan tekanan osmosis dan kelemahan pergerakan. Selain itu juga memperlihatkan penghambatan Na-K-ATP ase yang meningkatkan kehilangan kalium intraseluler. Hal ini membuktikan bahwa kejadian anemi karena keracunan timbal (Pb) disertai dengan penyusutan waktu hidup eritrosit.
c.        menghambat biosintesis hemoglobin dengan cara menghambat aktivitas enzim delta-ALAD dan enzim ferroketalase 15
Proses kehidupan organisme merupakan rangkain proses fisiologis, maka dibutuhkan enzim-enzim untuk kelancaran rangkaian-rangkaian reaksi yang dibentuknya. Enzim adalah katalisator protein (zat yang mempercepat reaksi biokimia dalam sistem biologis). Pada umumnya semua reaksi biokimia dikatalisasi oleh enzim. Sifat enzim yang paling bermakna adalah kesanggupannya untuk mengkatalisis suatu reaksi spesifik, dan pada hakekatnya tidak mengkatalisis reaksi lain.
Keberadaan suatu zat racun dapat mempengaruhi aktifitas enzim fisiologis tubuh. Logam berat mempunyai kemampuan untuk berikatan dengan enzim. Ikatan itu dapat terjadi karena logam berat mempunyai kemampuan untuk menggantikan gugus logam yang berfungsi sebagai ko-faktor enzim. Enzim-enzim tertentu memiliki gugus sulfihidril (- SH) sebagai pusat aktifnya .Enzim-enzim yang mempunyai gugus sulfihidril ini merupakan kelompok enzim yang paling mudah terhalang daya kerjanya . Keadaan ini disebabkan gugus sulfihidril dengan mudah berikatan dengan ion-ion logam berat. Akibat dari ikatan yang dibentuk antara gugus sulfihidril dengan ion logam berat, daya kerja yang dimiliki oleh enzim menjadi sangat berkurang atau sama sekali tidak bekerja .
Timbal (Pb) mengganggu sistem sintesis Hb dengan cara menghambat konversi delta aminolevulinik acid (delta ALAD) menjadi forfobilinogen dan menghambat korporasi dari Fe ke protoporfirin IX untuk membentuk Hb, dengan cara menghambat enzim delta aminolevulinik asid dehidratase (delta ALAD) dan feroketalase yang akhirnya meningkatkan ekskresi koproporfirin dalam urin dan delta ALA serta mensintesis Hb. Pembentukan senyawa porfirin seperti pada skema di bawah ini.
Kompensasi penurunan sintesis Hb karena terhambat timbal (Pb) adalah peningkatan produksi erithrofoesis. Sel darah merah muda (retikulosit) dan sel stipel kemudian dibebaskan. Ditemukannya sel stipel basofil (basophilic stippling) merupakan gejala dari adanya gangguan metabolik dari pembentukan Hb. Hal ini terjadi karena adanya tanda-tanda keracunan Pb. Sel darah merah gagal untuk menjadi dewasa dan sel tersebut menyisakan organel yang biasanya menghilang pada proses kedewasaan sel, akhirnya poliribosoma ireguler pada agregat RNA membentuk sel stipel.
2. Risiko Timbal (Pb) pada Sistem Saraf.
Sistem saraf merupakan sistem yang paling sensitif terhadap daya racun . Risiko dari keracunan keracunan timbal (Pb) dapat menimbulkan keruskan pada otak. Penyakit-penyaakit yang berhubungan dengan otak sebagai akibat dari keracunan timbal (Pb) adalah epilepsi, halusinasi, kerusakan pada otak besar dan delirium, yaitu sejenis penyakit gula.
Sistem saraf yang kena pengaruh timbal (Pb) dengan konsentrasi timbal dalam darah diatas 80 μg / 100 ml, dapat terjadi ensefalopati. Hal ini dapat dilihat melalui gejala seperti gangguan mental yang parah, kebutaan dan epilepsi dengan atrofi kortikal, atau dapat secara tidak langsung berkurangnya persepsi sensorik sehingga menyebabkan kurangnya kemampuan belajar, penurunan intelegensia (IQ), atau mengalami gangguan perilaku seperti sifat agresif, destruktif, atau jahat. Kerusakan saraf motorik menyebabkan kelumpuhan saraf lanjutan dikenal dengan lead palsy. Keracunan kandungan timbal (Pb) dapat merusak saraf mata pada anak-anak dan berakhir pada kebutaan. Centers for disease Control (CDC) menyatakan bahwa kandungan timbal (Pb) dalam darah 70 μg / 100 ml merupakan batas darurat medis akut pada pasien anak.
3. Risiko Timbal (Pb) pada Sistem ginjal.
Senyawa timbal (Pb) yang terlarut dalam darah dibawa ke seluruh system tubuh . Sirkulasi darah masuk ke glomerolus merupakan bagian dari ginjal. Glomerolus merupakan tempat proses pemisahan akhir dari semua bahan yang dibawa darah. Timbal (Pb) yang terlarut dalam darah akan berpindah ke sistem urinaria (ginjal) sehingga dapat mengakibatkan terjadinya kerusakan pada ginjal. Kerusakan terjadi karena terbentuknya intranuclear inclusion bodies disertai dengan gejala aminociduria, yaitu terjadinya kelebihan asam amino dalam urine. Nefropatis (kerusakan nefron pada ginjal) dapat di deteksi dari ketidak seimbangnya fungsi renal dan sering diikuti hipertensi.
4. Risiko Timbal (Pb) pada Sistem Gastrointestinal
Gejala awal muncul pada konsentrasi timbal (Pb) dalam darah sekitar 80 μg / 100 ml, gejala-gejala tersebut meliputi kurangnya nafsu makan, gangguan pencernaaan, gangguan epigastrik setelah makan, sembelit dan diare. Jika kadar timbal (Pb) dalam darah melebihi 100 μg / 100 ml, maka kecenderungan untuk munculnya gejala lebih parah lagi, yaitu bagian perut kolik terus menerus dan sembelit yang lebih parah. Jika gejala ini tidak segera ditangani, maka akan muncul kolik yang lebih spesifik. Konsentrasi timbal (Pb) dalam darah diatas 150 μg / 100 ml penderita menderita nyeri dan melakukan reaksi kaki ditarik-tarik kearah perut secara terus menerus dan menggeretakkan gigi, diikuti keluarnya keringat pada kening. Jika tidak dilakukan penanganan lebih lanjut, maka kolik dapat terjadi selama beberapa hari, bahkan hingga satu minggu.
5. Risiko Timbal (Pb) pada Sistem Kardiovaskuler.
Tahap akut keracuan timbal (Pb) khususnya pada pasien yang menderita kolik, tekanan darah akan naik. Jika terjadi hal demikian, maka pasien tersebut akan mengalami hipotonia. Kemungkinan kerusakan miokardial harus diperhatikan. Dalam penelitian ditemukan jenis kelainan perubahan elektrokardiografis pada 70 % dari total pasien yang ditangani. Temuan utama dari penelitian adalah takhikardia, atrial disritmia, gelombang T dan atau sudut QRS-T yang melebar secara tidak normal.
6. Risiko Timbal (Pb) pada Sistem Reproduksi dan Endokrin.
Efek reproduktif meliputi berkurangnya tingkat kesuburan bagi wanita maupun pria yang terkontaminasi Timbal (Pb), logam tersebut juga dapat melewati placenta sehingga dapat menyebabkan kelainan pada janin. Dapat menimbulkan berat badan lahir rendah dan prematur. Timbal (Pb) juga dapat menyebabkan kelainan pada fungsi tiroid dengan mencegah masuknya iodine.
7. Risiko Karsinogenik.
International Agency for Research on Center (IARC) menyatakan bahwa timbal (Pb) inorganic dan senyawanya termasuk dalam grup 2B, kemungkinan menyebabkan kanker pada manusia. Tahap awal proses terjadinya kanker adanya kerusakan DNA yang menyebabkan peningkatan lesi genetik herediter yang menetap atau disebut mutasi. Timbal (Pb) diperkirakan mempunyai sifat toksik pada gen sehingga dapat mempengaruhi terjadinya kerusakan DNA / mutasi gen dalam kultur sel mamalia. Patogenesis kanker otak akibat terpapar timbal (Pb) adalah sebagai berikut : timbal (Pb) masuk kedalam darah melalui makanan dan akan tersimpan dalam organ tubuh yang mengakibatkan gangguan sintesis DNA, proliferensi sel yang membentuk nodul selanjutnya berkembang menjadi tumor ganas.








BAB III
KESIMPULAN

Timbal (plumbum /Pb )  atau timah hitam adalah satu unsur logam berat yang lebih tersebar luas dibanding kebanyakan logam toksik lainnya. Kadarnya dalam lingkungan meningkat karena penambangan, peleburan dan berbagai penggunaannya dalam industri. Timbal (Pb) adalah logam yang mendapat perhatian khusus karena sifatnya yang toksik (beracun) terhadap manusia Timbal (Pb) dapat masuk ke dalam tubuh melalui konsumsi makanan, minuman, udara, air, serta debu yang tercemar Pb.
Jalur masuknya timbal (Pb) ke tubuh manusia melalui saluran pernapasan (respirasi), juga melalui saluran pencernaan (gastrointestinal), kemudian di distribusikan ke dalam darah, dan terikat pada sel darah. Sebagian Pb disimpan dalam jaringan lunak dan tulang, sebagian diekskresikan lewat kulit, ginjal dan usus besar.
Keracunan akibat kontaminasi Pb bisa menimbulkan berbagai macam hal diantaranya:
  1. Menghambat aktivitas enzim yang terlibat dalam pembentukan hemoglobin (Hb)
  2. Meningkatnya kadar asam δ-aminolevulinat dehidratase (ALAD) dan kadar protoporphin dalam sel darah merah
  3. Memperpendek umur sel darah merah
  4. Menurunkan jumlah sel darah merah dan retikulosit, serta meningkatkan kandungan logam Fe dalam plasma darah.
Mekanisme toksisitas Pb berdasarkan organ yang dipengaruhinya adalah:
1. Sistem haemopoietik; dimana Pb menghambat sistem pembentukan hemoglobin (Hb) sehingga menyebabkan anemia.
2. Sistem saraf; di mana Pb dapat menyebabkan kerusakan otak dengan gejala epilepsi, halusinasi, kerusakan otak besar, dan delirium.
3. Sistem urinaria; dimana Pb bisa menyebabkan lesi tubulus proksimalis, lengkung henle, serta menyebabkan aminosiduria.
4. Sistem pencernaan; di mana Pb dapat menyebabkan kolik dan konstipasi.
5. Sistem kardiovaskular; di mana Pb dapat menyebabkan peningkatan permeabilitas pembuluh darah.
6. Sistem reproduksi; di mana Pb dapat menyebabkan keguguran, tidak berkembangnya sel otak embrio, kematian janin waktu lahir, serta hipospermia dan teratospermia pada pria.
7. Sistem endokrin; di mana Pb dapat menyebabkan gangguan fungsi tiroid dan fungsi adrenal
8. Bersifat karsinogenik dalam dosis tinggi.











DAFTAR PUSTAKA

Anonim a, 2013. Toksikologi Timbal (pb). http//:bio-science.wordpress.com/. diakses pada tanggal 24 Februari 2013 pada pukul 20.05 WITA. Makasar.

---------- b, 2013. Penyakit yang Disebabkan Oleh Timbal. http//:public-health.com/. diakses pada tanggal 24 Februari 2013 pada pukul 20.33 WITA. Makasar.   
     
Budiawan, nat, rer, Dr, 2008. Peran Toksikologi Forensik Dalam Mengungkap Kasus Keracunan Dan Pencemaran Lingkungan. Indonesian Journal of Legal and Forensic Sciences 2008; 1(1):35-39. Jakarta.

Darmono. 1995. Logam Dalam Sistem Biologi Makhluk Hidup. UI Press. Jakarta.

Maharani, Yusniar, 2013. Disposisi dan metabolisme senyawa toksik. http//:yusniar-maharani.blogspot.com/. diakses pada tanggal 24 Februari 2013 pada pukul 20.13 WITA. Makasar.

Pallar, H. 1994. Pencemaran dan Toksikologi Logam Berat. Rineka Cipta. Jakarta.

Wardhayani, Sutji, 2006. Analisis Risiko Pencemaran Bahan Toksik Timbal (Pb) Pada Sapi Potong Di Tempat Pembuangan Akhir (Tpa) Sampah Jatibarang Semarang. Magister Kesehatan Lingkungan, Program Pascasarjana Universitas Diponegoro, Konsentrasi Kesehatan Lingkungan Industri. Semarang.

Wikipedia, 2013. Timbal. http//:id.wiki.org/timbale/. diakses pada tanggal 24 Februari 2013 pada pukul 20.45 WITA. Makasar.










MAKALAH  KELOMPOK
TOKSIKOLOGI

 ZAT TOKSIN TIMBAL DAN PROSES ADME
OLEH :

KELOMPOK 1
Muh. Ikhsan                  H411 09                   
Marwah Adinda Lestari    H411 10 003
Rr. Dyah Roro Ariwulan    H411 10 272






JURUSAN  BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2013

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar